TABLIGH.ID, Makassar, 4 November 2025 – Sebelum menafsirkan ayat-ayat dakwah, kita harus memahami hakikat Al-Qur’an itu sendiri. Al-Qur’an adalah kitab petunjuk, kitab hidayah. Demikian penegasan Dr. Fahmi Salim, Lc., M.A., Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah saat menjadi narasumber Sekolah Tabligh Zona 4 yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan, melalui zoomeeting dengan tema Pemahaman Ayat-ayat tentang Dakwah.
Menurut Dr. Fahmi, secara terminologis Al-Qur’an adalah Kalamullah yang diturunkan ke dalam hati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tertulis dalam mushaf, disampaikan secara mutawatir, dan membacanya merupakan ibadah serta mukjizat. “Namun bagi para da’i, makna sederhana dari Al-Qur’an adalah kitab petunjuk. Sebab da’i adalah penyeru dan pemberi petunjuk,” jelasnya.
Ia mengutip dua ayat sebagai dasar pandangan tersebut:
“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu.” (QS. Yunus: 57)
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Asy-Syura: 52).
Dalam forum yang diikuti para mubalig dari tiga kabupaten di Zona 4, Dr. Fahmi menekankan bahwa profesi utama seorang kader tabligh Muhammadiyah adalah mubalig, bukan sekadar dosen, ASN, atau profesi lainnya.
“Jawablah dengan tegas, profesi utama kita adalah mubalig Muhammadiyah. Pahala tertinggi adalah memberi petunjuk kepada manusia menuju jalan yang benar,” ujarnya.
Beliau mengutip hadis Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
“Jika Allah memberikan hidayah kepada seseorang melalui dirimu, maka itu lebih baik bagimu daripada unta merah.”
Hadis ini, lanjutnya, menunjukkan betapa agung pahala dakwah, karena dakwah merupakan bentuk ibadah yang membawa manusia menuju hidayah Allah.
Dr. Fahmi mengingatkan bahwa dakwah adalah tugas setiap muslim, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an:
“Aku hanya menyampaikan peringatan dari Allah dan risalah-Nya. Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya baginya neraka Jahanam.” (QS. Al-Jinn: 23).
“Setiap manusia bertanggung jawab atas amalnya. Karena itu, harus ada yang menyampaikan risalah. Fungsi tabligh ini adalah mata rantai kenabian, perpanjangan tangan dari risalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,” tegasnya.
Ia menambahkan, “Setelah wahyu berhenti, tanggung jawab menyampaikan kebenaran berada di pundak para da’i dan mubalig. Di situlah letak kemuliaan dakwah Muhammadiyah.”
Dr. Fahmi juga menyoroti tantangan dakwah kontemporer, di mana umat Islam harus menghadapi persoalan kemungkaran struktural seperti mafia tanah, cukai, pangan, energi, hingga judi dan narkoba.
“Para da’i harus mendukung pemimpin yang menegakkan keadilan dan memerangi mafia melalui khutbah dan kajian. Ini bagian dari jihad keadilan sosial dan jihad konstitusi untuk mewujudkan al-hukmur rasyid (pemerintahan yang bersih dan adil),” ungkapnya.
Menurutnya, hukum berdakwah pada dasarnya fardu kifayah, namun bisa menjadi fardu ‘ain bagi mereka yang memiliki kemampuan dan kesempatan, terutama ketika tidak ada yang melakukannya.
Lebih lanjut, Dr. Fahmi menjelaskan prinsip-prinsip dakwah berdasarkan Surah An-Nahl ayat 125:
1. Hikmah (Kebijaksanaan): Menyesuaikan metode dan materi dengan kondisi dan tingkat pemahaman objek dakwah.
2. Mau‘izhah Hasanah (Nasihat yang Baik): Disampaikan dengan kasih sayang, keteladanan, dan kelembutan.
3. Mujadalah bil-Ahsan (Dialog yang Terbaik): Diskusi yang santun, beradab, dan jauh dari cacian.
4. Ikhlas: Hanya karena Allah (QS. Al-An‘am: 162–163).
5. Sabar dan Istiqamah: Sebagaimana pesan dalam QS. Al-Ahqaf: 35 dan QS. Al-‘Ashr.
6. Amal Sebelum Ucapan: Memberi keteladanan terlebih dahulu.
Adapun batasan dalam dakwah, lanjutnya, adalah tidak boleh ada paksaan dalam beragama (QS. Al-Baqarah: 256), tidak kasar dan penuh kebencian (QS. Ali ‘Imran: 159), tidak menyimpang dari kebenaran, serta harus menghormati martabat manusia.
“Dakwah adalah jalan membebaskan manusia dari kegelapan menuju cahaya Islam. Inilah fungsi utama tabligh Muhammadiyah: menyampaikan risalah dengan hikmah, menegakkan kebenaran, dan memuliakan manusia dengan tauhid,” tutup Dr. Fahmi dalam sesi penutupnya yang disampaikan secara interaktif bersama peserta Sekolah Tabligh.

