Wawancara Eksklusif bersama KH. Fathurrahman Kamal, Lc., M.S.I.
Oleh Redaksi Tabligh.id | Yogyakarta, 10 November 2025
“Risalah Dakwah dan Tabligh Berkelanjutan ini bukan sekadar dokumen konseptual, melainkan arah gerak peradaban Islam yang akan menuntun bangsa menuju masa depan yang berkemajuan, berkeadaban, dan berdaulat,” ujar KH. Fathurrahman Kamal, Lc., M.S.I., Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, membuka perbincangan eksklusif bersama tabligh.id di Yogyakarta.
Beliau menegaskan bahwa risalah ini disusun sebagai panduan strategis gerakan dakwah Muhammadiyah dalam meneguhkan Islam sebagai dīn al-ḥaḍārah — agama yang membawa kemajuan dan rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil ‘alamin). Dalam pandangan Muhammadiyah, lanjutnya, dakwah tidak sekadar penyampaian ajaran agama secara lisan, tetapi merupakan gerakan transformasi sosial, ekonomi, dan moral menuju kehidupan yang adil, makmur, dan beradab.
“Tabligh berarti menyampaikan kebenaran dengan hikmah, ilmu, dan kasih sayang. Sedangkan ‘berkelanjutan’ menunjukkan bahwa dakwah bukanlah kegiatan seremonial, tetapi sistem nilai yang hidup, bergerak, dan menghidupi,” tambahnya.
Dakwah sebagai Gerak Peradaban
Dalam konteks keumatan dan kebangsaan Indonesia, risalah ini mengandung misi besar: membumikan Islam berkemajuan agar menjadi ruh pembangunan nasional yang menyatu dengan nilai-nilai moral dan spiritual.
Tahun 2045 — seratus tahun kemerdekaan Indonesia — menjadi momentum penting. Muhammadiyah, pada saat yang sama, telah menapaki sepertiga abad kedua dari sejarah gerakannya. “Kita memasuki fase peradaban baru dengan realitas yang kompleks: revolusi digital, krisis lingkungan global, disrupsi nilai, dan perubahan struktur sosial-ekonomi dunia,” ujar KH. Fathurrahman.
Dalam pandangannya, kehadiran risalah ini memastikan agar dakwah Muhammadiyah tidak kehilangan arah di tengah percepatan zaman, tetapi justru tampil sebagai kekuatan moral dan intelektual yang menuntun bangsa menuju Indonesia Emas 2045 — Indonesia yang maju, berkeadaban, dan berdaulat.
“Risalah ini adalah peta jalan gerakan. Dakwah tidak berhenti di mimbar, tapi menjelma menjadi sistem sosial yang berkelanjutan — membangun peradaban Islam yang mencerahkan, menggerakkan, merekat, dan menggembirakan,” tegasnya.
Membaca Tantangan Zaman: Bonus Demografi, Krisis Moral, dan Arah Global
KH. Fathurrahman menguraikan bahwa bonus demografi merupakan peluang besar sekaligus ujian berat. Sekitar tahun 2035, Indonesia akan didominasi oleh generasi usia produktif. “Ini bisa menjadi anugerah, tapi juga bencana. Jika umat tidak dibimbing dengan moral dan spiritualitas Islam, bonus demografi akan berubah menjadi beban sosial,” ujarnya.
Selain itu, Indonesia juga akan menghadapi proxy war — perang pengaruh antar kekuatan besar dunia yang menggunakan aktor pengganti. Sumber daya alam, terutama energi terbarukan, berpotensi menjadi medan konflik global. Karena itu, dakwah harus menguatkan kesadaran umat agar mampu berdiri teguh dan berdaulat di tengah pusaran geopolitik.
Dalam konteks visi Indonesia Emas 2045, risalah ini menegaskan bahwa kemajuan bangsa tidak hanya bergantung pada pembangunan fisik dan ekonomi, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kesadaran spiritual. “Kita ingin Indonesia yang maju bukan hanya secara material, tetapi juga bermoral. Karena itu, Islam harus menjadi fondasi nilai pembangunan nasional,” tutur beliau.
Beliau juga menyoroti krisis moral dan spiritual yang lahir akibat derasnya arus digitalisasi dan globalisasi nilai. “Kita mengalami degradasi moral dan disorientasi spiritual. Risalah ini hadir untuk menuntun rekonstruksi etika sosial Islam, agar nilai-nilai keislaman mampu berdialog dan berdampingan dengan dunia modern,” jelasnya.
Islam Berkemajuan sebagai Arah Peradaban Nasional
Risalah ini juga meneguhkan konsep Islam Berkemajuan — bukan sebagai slogan ideologis, melainkan sebagai kerangka praksis pembangunan bangsa. Nilai-nilai Islam dihadirkan sebagai dasar kebijakan publik, sistem pendidikan, pembangunan ekonomi, dan pengelolaan lingkungan hidup.
“Islam Berkemajuan itu bukan sekadar jargon. Ia adalah cara pandang yang meneguhkan iman, memuliakan ilmu, dan menggerakkan amal. Dalam konteks ini, dakwah harus memimpin arah pembangunan nasional,” jelas KH. Fathurrahman.
Lebih lanjut, risalah ini mengarahkan dakwah agar responsif terhadap isu-isu global dan keberlanjutan, seperti keadilan iklim, kesetaraan gender, kemiskinan struktural, dan transformasi digital. Semua isu tersebut diintegrasikan dalam kerangka fiqh dakwah kontemporer yang membumi dan berorientasi pada kemaslahatan semesta.
“Dakwah kita harus berwawasan global, tetapi membumi. Harus peka terhadap isu-isu keberlanjutan, keadilan sosial, dan tanggung jawab ekologis. Di situlah Islam berperan menjadi rahmat bagi seluruh alam,” tambahnya.
Mengaitkan Dakwah dengan Agenda Global SDGs
Menariknya, risalah ini juga mengintegrasikan dakwah dengan Sustainable Development Goals (SDGs) — agenda global PBB tentang pembangunan berkelanjutan. Namun KH. Fathurrahman menegaskan bahwa Islam sejatinya telah lebih dahulu memuat prinsip-prinsip keberlanjutan tersebut.
“Islam adalah sumber moral sustainability dan spiritual governance. Tauhid, keadilan, keseimbangan, dan tanggung jawab adalah empat pilar yang membangun etika keberlanjutan. Islam mengajarkan kita untuk menjaga kehidupan, alam, dan generasi masa depan,” paparnya.
Menurutnya, pembangunan yang benar bukan hanya yang berhasil secara material, tetapi juga bermakna secara moral dan spiritual. “Kita harus menautkan misi keagamaan dengan misi kemanusiaan global. Inilah wujud Islam rahmatan lil ‘alamin yang sesungguhnya,” ujarnya menegaskan.
Menjawab Disrupsi Zaman dan Post-Truth Society
Dalam konteks dakwah abad ke-21, risalah ini memandang disrupsi teknologi dan fenomena post-truth sebagai tantangan serius. “Kini kebenaran sering dikalahkan oleh opini dan emosi. Ini bahaya bagi akal sehat umat,” ujar KH. Fathurrahman.
Beliau menegaskan pentingnya strategi dakwah digital beretika, berbasis literasi media, verifikasi informasi, dan narasi Islam yang cerdas dan mencerahkan. “Muhammadiyah harus hadir di dunia digital dengan bahasa akal, hati, dan akhlak,” ujarnya.
Krisis spiritual dan degradasi moral, menurutnya, hanya bisa diatasi dengan spiritualitas rasional — keseimbangan antara dzikir dan pikir, antara ibadah dan kerja sosial. “Itulah Islam yang berkeadaban,” tandasnya.
Muhammadiyah, lanjutnya, juga berperan membangun dialog kemanusiaan lintas iman dan budaya sebagai praktik nyata Islam rahmatan lil ‘alamin. Dalam konteks global, risalah ini mengamanatkan dakwah yang mampu merespons krisis iklim, kemiskinan struktural, dan ketimpangan digital. “Dakwah masa depan tidak cukup bicara tentang aqidah, tapi juga tentang amanah ekologis,” ucapnya.
Islam dan Konsep Kemajuan: Ihsān, Itqān, dan Rahmah
KH. Fathurrahman kemudian menguraikan bahwa konsep kemajuan dalam Islam berakar pada tiga prinsip wahyu: ihsan, itqan, dan rahmah. Ketiganya menjadi fondasi spiritual dan moral bagi kemajuan peradaban.
الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ
“(Allah) yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan.” (QS. As-Sajdah: 7)
صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ
“(Inilah) ciptaan Allah yang menyempurnakan segala sesuatu.” (QS. An-Naml: 88)
وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ
“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. Al-A‘rāf: 156)
“Ihsan adalah kesempurnaan niat dan amal; itqan adalah kesungguhan kerja; dan rahmah adalah kasih sayang dalam relasi sosial. Tiga-tiganya membentuk wajah Islam yang paripurna,” jelasnya.
Dalam pandangan Islam, tambahnya, itqan berarti kesungguhan dan ketepatan dalam bekerja, sedangkan ihsan adalah kekuatan batin yang menuntun amal agar bernilai di sisi Allah. “Ihsan adalah energi ruhani; itqan adalah manifestasi profesionalisme; dan rahmah adalah puncak kemanusiaan,” ujar beliau.
Manhaj dan Gerakan Dakwah Berkelanjutan Muhammadiyah
Sebagai risalah gerakan, dokumen ini dibangun atas prinsip tauhid, berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah, menghidupkan ijtihad dan tajdid, mengembangkan wasathiyah, dan mewujudkan rahmat bagi seluruh alam.
Metodologinya berpijak pada mabda’ i‘timani (prinsip keimanan) yang holistik dengan metode bayani, burhani, dan irfani — menggabungkan wahyu, rasio, dan intuisi spiritual. “Kita menggunakan ilmu pengetahuan tanpa kehilangan iman,” ujar KH. Fathurrahman.
Gerakan risalah ini diwujudkan melalui empat poros utama: gerakan dakwah, gerakan tajdid, gerakan ilmu, dan gerakan amal. Keempatnya menjadi satu kesatuan dalam membangun masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Dalam ranah praksis, risalah ini mengarahkan penghidmatan dakwah pada lima bidang: keumatan, kebangsaan, kemanusiaan, global, dan masa depan. Bidang keumatan meneguhkan ukhuwah dan meningkatkan kualitas umat; bidang kebangsaan memajukan demokrasi, ekonomi, hukum, dan kebudayaan; bidang kemanusiaan mengentaskan kemiskinan, memberdayakan masyarakat, dan melindungi perempuan dan anak; bidang global memperjuangkan keadilan, perdamaian, dan kelestarian lingkungan; sementara bidang masa depan menyiapkan generasi tangguh bermental spiritual dan berkemampuan sains serta teknologi informasi.
Penutup: Dakwah Berkemajuan sebagai Jalan Peradaban
Menutup perbincangan, KH. Fathurrahman menegaskan kembali bahwa Risalah Dakwah dan Tabligh Berkelanjutan bukan sekadar konsep organisasi, melainkan panduan peradaban Islam.
“Islam bukan hanya untuk disyiarkan, tetapi untuk membangun peradaban. Dakwah bukan sekadar menyampaikan, tetapi menumbuhkan kehidupan. Dan tabligh bukan hanya bicara, tetapi menggerakkan nilai,” tuturnya.
Baginya, dakwah berkelanjutan adalah ruh dari Islam berkemajuan: menghidupkan iman, menggerakkan ilmu, dan menebarkan rahmat bagi seluruh alam.
“Inilah jalan dakwah yang berkemajuan — dakwah yang membangun manusia, bangsa, dan dunia,” pungkas KH. Fathurrahman Kamal.

