web stats
Home » Tafsir Tarbawi Az-Zukhruf 23–25: Bahaya Taqlid dan Kesombongan dalam Menolak Kebenaran

Tafsir Tarbawi Az-Zukhruf 23–25: Bahaya Taqlid dan Kesombongan dalam Menolak Kebenaran

by Redaksi
0 comment

Oleh: Dr. Hakimuddin Salim, Lc., M.A.

وَكَذٰلِكَ مَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِيْ قَرْيَةٍ مِّنْ نَّذِيْرٍۙ اِلَّا قَالَ مُتْرَفُوْهَآ ۙاِنَّا وَجَدْنَآ اٰبَاۤءَنَا عَلٰٓى اُمَّةٍ وَّاِنَّا عَلٰٓى اٰثٰرِهِمْ مُّقْتَدُوْنَ ۞ قٰلَ اَوَلَوْ جِئْتُكُمْ بِاَهْدٰى مِمَّا وَجَدْتُّمْ عَلَيْهِ اٰبَاۤءَكُمْۗ قَالُوْٓا اِنَّا بِمَآ اُرْسِلْتُمْ بِهٖ كٰفِرُوْنَ فَانْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ ࣖ

Demikian juga ketika Kami mengutus seorang pemberi peringatan sebelum engkau (Nabi Muhammad) ke suatu negeri. Orang-orang yang hidup mewah (di negeri itu) selalu berkata, “Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu (agama) dan kami hanya mencontoh jejak mereka.” Dia (pemberi peringatan) berkata, “Masihkah kamu (mengikuti jejak nenek moyangmu), sekalipun aku membawa (agama) yang lebih baik panduannya daripada apa yang kamu peroleh dari nenek moyangmu itu?” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami (tetap) mengingkari kerasulanmu.” Lalu kami membinasakan mereka. Maka, perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (kebenaran).

Sebelumnya  sudah kita jelaskan apa yang dikatakan oleh orang-orang kafir Quraisy sebagai jawaban atas seruan Allah dan Rasul-Nya untuk beribadah kepada-Nya dan menjauhi perbuatan-perbuatan syirik. Allah mengabadikan apa yang mereka sampaikan sebagai alasan: “Bal inna wajadna abaana ‘ala ummatin wa inna ‘ala aatsarihim muhtadun.” 

Bahkan mereka berkata, “Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami berada di atas jejak mereka, kami mendapat petunjuk.” 

Jadi, ketika orang-orang kafir Quraisy itu sudah tidak punya argumen lagi—semua angan-angan, keyakinan, kekufuran, dan kemusyrikan mereka terbantahkan, termasuk keyakinan mereka bahwasanya malaikat itu adalah banatullah (anak-anak perempuan Allah) yang kemudian dibantah oleh Allah subhanahu wa ta’ala berdasarkan logika mereka sendiri—ujung-ujungnya apa? Ujung-ujungnya mereka menjawab, “Kami seperti ini karena kami mengikuti nenek moyang kami.” Ya, ini jelas tidak logis, dan ini adalah jawaban orang-orang kafir Quraisy. 

Setelah itu, Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan: 


“Wa kadzalika ma arsalna min qablika fi qaryatim min nadzirin illa qala mutrafuha inna wajadna abaana ‘ala ummatin wa inna ‘ala aatsarihim muqtadun.” 

Dan demikian pula, tidaklah Kami mengutus sebelum engkau (wahai Muhammad) dalam suatu negeri seorang pemberi peringatan, melainkan orang-orang yang hidup mewah (para pembesar dan pemimpin) di negeri itu pasti akan menolaknya. Dan mereka mengatakan, “Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami berada di atas suatu ideologi, suatu agama, suatu budaya, suatu kebiasaan, dan sesungguhnya kami berada di atas petunjuk-petunjuk mereka atau jejak-jejak mereka; kami ini cuma pengikut.” 

Jadi, ini ditegaskan kembali oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Orang yang beralasan dengan warisan nenek moyang itu ternyata bukan hanya orang-orang kafir Quraisy, tetapi juga kaum-kaum sebelumnya, umat-umat terdahulu yang mendustakan para nabi dan rasul. Ternyata mereka juga punya alasan yang sama. Kalau sudah kalah debat, kalau sudah tidak punya argumen, kalau keyakinan-keyakinan mereka terbantahkan oleh kenyataan, mitos-mitos mereka terdobrak oleh fakta-fakta, ujung-ujungnya jawabannya ya kayak gitu. Ini ternyata sudah menjadi kebiasaan orang-orang kafir, orang-orang musyrik. 

Apa kata Al-Imam Al-Qurthubi? Beliau menjelaskan ada yang menarik. Al-Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwasanya ayat ini menjadi dalil akan kebatilan taqlidTaqlid itu apa? Dari kata qallada – yuqallidu, artinya taqlidan. Artinya apa? Meniru. Jadi, dulu kita kalau belanja sama orang Arab, ya bertanya, “Ini asli atau imitasi?” “Hal hadza ashliyun au taqlidiyyun?” “Ini asli atau tiruan?” Imitasi itu artinya meniru. 

Apa kata Al-Imam Al-Qurthubi? Dalil ini, ayat ini, menunjukkan tentang kebatilan taqlid. Kalau kita cuma meniru, kalau kita cuma ikut-ikutan dalam beragama, tidak boleh. Termasuk apa yang dilakukan oleh orang-orang kafir Quraisy dan juga umat-umat terdahulu yang Allah binasakan, yang Allah azab dengan kekufuran dan kemusyrikan mereka. Alasan mereka melakukan itu karena mereka mengikuti, meniru, mengimitasi agama, kebiasaan, budaya, ritual nenek moyang mereka. Ini batil. 

Di sini Allah subhanahu wa ta’ala mencela mereka karena mereka bertaqlid kepada siapa? Kepada nenek moyang mereka. Kemudian mereka tidak mau mengecek kembali, mengoreksi, mengevaluasi atas apa yang diseru oleh nenek moyang mereka. Manut, ikut, itu bahaya. Bertaqlid kepada orang lain, bahkan ketika itu adalah nenek moyang, bahkan ketika itu adalah mbah-mbah, bapak-ibu kita, tidak boleh bertaqlid kepada mereka, apalagi kaitannya dengan peribadahan, apalagi mengikuti mereka di atas kekufuran dan kesyirikan. 

Kalau mengikuti mereka kaitannya dengan adab, kaitannya dengan budaya atau ‘urf yang masuk dalam kategori ‘urf shahih (budaya yang baik), budaya yang benar yang tidak bertentangan dengan syariat, it’s okay, tidak ada masalah. Kalau kita komitmen dengan kearifan lokal, dan kearifan itu betul-betul arif—‘arifa – ya’rifu‘arif itu artinya mengetahui, ‘arif billah ini berarti orang yang makrifat kepada Allah subhanahu wa ta’ala—ya, kalau kearifan itu betul-betul berdasarkan makrifat, berdasarkan ilmu, berdasarkan pengetahuan, tidak bertentangan dengan syariat Allah subhanahu wa ta’ala, tidak apa-apa. Tapi kalau bertentangan, ini namanya taqlid: tetap, tetap, tetap mengikuti, tetap meniru setelah jelas bahwasanya itu batil. Itulah yang namanya taqlid. 

Ini taqlid yang paling fatal: meniru, mengikuti orang lain dalam kekufuran atau kesyirikan. Di internal umat Islam banyak juga taqlid tipis-tipis. Ya, pokoknya apa kata ustazku. Kalau ustazku, ustaz kelompokku, ustaz jamaahku, ustaz ormasku, ustaz partaiku, ustaz—apalagi?—tanzhim-ku sudah ngomong, ya udah, pokoknya sami’na wa atha’na. Diingatkan pakai ayat, diingatkan pakai hadis, diingatkan dengan fatwa, tidak mempan. “Tegak lurus,” katanya. “Sami’na wa atha’na,” alasannya. Ini sesuatu yang makbul, katanya. Tidak mau mendengarkan kebenaran dari orang lain. Itu juga taqlid. 

“Bagaimana kalau orang awam, Ustaz? Kaitannya dengan taklid mazhab?” Kalau dia awam sekali, sama sekali tidak bisa mengetahui dalil, boleh dia bertaklid, mengikuti mazhabnya. Tapi, kalau dia menjadi pengikut mazhab, menjadi muqallid (orang yang bertaqlid) kepada mazhabnya, kemudian datang kepadanya orang yang menjelaskan atau sampai kepadanya dalil yang bertentangan dengan pendapat yang diikutinya, tidak boleh dia kemudian tetap mempertahankan pendapat itu. Kenapa? Karena bahkan aimmatul madzahib (imam-imam mazhab)—semuanya mengatakan—idha shahahal haditsu fahuwa madzhabi (kalau hadis itu sahih, maka itulah mazhabku). “Kalau hadis itu benar, kalau hadis itu sahih dan ternyata bertentangan dengan pendapatku, maka mazhabku adalah hadis tadi.” 

Sudah diingatkan kita semua itu soal mazhab yang khilaf. Mazhab itu sesuatu yang muktabar, sesuatu yang memang diakui, apalagi khilaf-nya adalah khilaf yang kuat. Bahkan dikatakan, la inkara fil khilaf (tidak boleh mengingkari) dalam perkara-perkara khilafiah. Ya, lah, ini banyak orang yang bertaqlid, mempertahankan pendapat ormasnya, mempertahankan pendapat kelompoknya, mempertahankan pendapat organisasinya, ustaznya—salah atau benar. Ini bahaya. Itu yang namanya taqlid ya. 

Insyaallah taqlid kita tidak kayak taqlid orang-orang kafir, orang-orang musyrik yang bertaqlid kepada nenek moyang mereka dalam kekufuran dan kemusyrikan. Dalam hal itu insyaallah aman ya. Tapi ternyata banyak yang taqlid-taqlid tipis tadi. Ini hati-hati. 

“Qala awa law ji’tukum bi ahda mimma wajattum ‘alaihi abaakum?” Rasul itu berkata, “Apakah (kalian akan tetap) jika aku membawa untuk kalian sesuatu yang lebih baik, sesuatu yang lebih lurus, sesuatu yang lebih benar, dari apa yang kalian peroleh atasnya agama nenek moyang kalian?” 

Qalu: Mereka—meskipun sudah disampaikan seperti itu dari para rasul—jawabannya apa? “Inna bima ursiltum bihi kafirun.” “Sesungguhnya kami dengan apa yang kalian diutus untuk menyampaikannya, kami mengingkari.” Nah, ini penting banget ya. 

Jadi, alasan nenek moyang itu adalah alasan yang klise, alasan yang turun-temurun, menjadi kebiasaan orang-orang kafir, orang-orang musyrik sepanjang zaman. Saat mereka sudah terbantah argumennya dan tidak punya alasan lagi untuk menyekutukan Allah, ya, tetap saja kekeh, tetap saja ngotot, tetap saja mempertahankan apa yang ada pada mereka. Bahkan, ketika kemudian para nabi dan rasul, para penyeru kebenaran itu sudah menegaskan, “Apakah kalian akan tetap kafir? Apakah kalian tetap musyrik? Apakah kalian akan tetap bertahan atas millah, ideologi, peninggalan, warisan nenek moyang kalian? Padahal aku”—maksudnya para nabi dan rasul—”datang dengan membawa sesuatu yang ahda (lebih baik), sesuatu yang lebih menunjukkan kepada kebenaran, sesuatu yang lebih logis, sesuatu yang lebih masuk akal, sesuatu yang lebih membahagiakan, menggembirakan, memajukan, sesuatu yang lebih mengentaskan dari kejahiliahan, kebodohan, kemiskinan, sesuatu yang lebih relate, lebih relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dibandingkan dengan keyakinan-keyakinan kalian, kepercayaan-kepercayaan kalian yang kalian warisi dari bapak kalian.” 

Apa jawaban mereka? Ya, orang-orang seperti itu: “Inna bima ursiltum bihi kafirun.” “Sesungguhnya kami dengan apa yang kalian—para rasul dengannya diutus, kami mengingkari.” Jadi, sebenarnya mereka itu, orang-orang kafir, orang-orang musyrik itu, sudah tahu nabi dan rasul itu utusan Allah. Orang ngomongnya saja “inna bima ursiltum bihi”. Karena apa? Mereka sudah tidak punya argumen lagi untuk membantah. Ya, tapi meskipun tahu itu kebenaran, meskipun tahu bahwasanya para nabi dan rasul itu adalah utusan Allah, tapi tetap kafir. Nah, ini sesuatu yang bahaya ya.   

Ibnu Katsir menjelaskan,

 “Wa innama jahadu haula’i wa ‘alimu haqqiyyata ma ja’a bihir rasulu shallallahu ‘ laihi wasallama lakin qasaduhum su’u.” 

Ini Ibnu Katsir menjelaskan, kenapa mereka—setelah mengetahui, meyakini kebenaran apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan nabi-nabi sebelumnya—kok tetap masih kafir, kok tetap masih ingkar? Ya, dijelaskan “Bisu’i qasdihim,” sebabnya mereka memang punya niat yang buruk. Ini penting. 

Ada dua hal, dua sebab yang dijelaskan oleh Ibnu Katsir. Ini penting bagi kita para dai, bagi para penyeru kebenaran, saat menghadapi orang-orang yang ingkar ya, orang-orang yang memusuhi agama Allah subhanahu wa ta’ala, orang-orang yang sudah dijelaskan panjang lebar, tetap takabur, tetap menolak, tetap kufur. Biasanya biasanya dikarenakan dua hal: “Bisu’i qasdihim,” disebabkan karena memang mereka punya niat yang buruk. Orang-orang seperti ini biasanya memang punya niat yang buruk ya. Entah punya motif atas sesuatu, tendensius, atau dia punya target-target tertentu yang itu merupakan target yang buruk, punya niat-niat buruk. Karena kalau orang itu betul-betul tulus mencari kebenaran, setelah dia mendapatkan kebenaran, ya dia akan rujuk kepada kebenaran, meninggalkan kebatilan. Itu kalau betul-betul tulus. Orang itu kalau hanif (lurus), orang kalau lurus, insyaallah lebih dekat kepada hidayah. Tapi kalau orang-orang yang memang punya su’ul qasd (niat yang buruk) dalam hatinya, menyimpan sesuatu yang su’ tadi, dia tidak akan menerima, meskipun dia tahu itu kebenaran. 

Ini bisa menjadi kaidah. Tidak harus semuanya tentang kekafiran dan kemusyrikan, tapi bahkan dalam kehidupan sehari-hari ya. Kalau ada orang kok dinasihati, sudah diarahkan, sudah diingatkan, kok tetap ah, tetap kekeh dengan kebatilannya, tetap kekeh dengan keburukannya, biasanya salah satunya disebabkan karena su’ul qasd. Dia punya orientasi yang salah, dia punya tujuan yang buruk, tersimpan dalam hatinya penyakit-penyakit, ya, niat-niat jahat. 

“Wa mukabarotihim lil haqqi wa ahlih,” kata Ibnu Katsir. Sebab yang kedua biasanya disebabkan karena mukabarahMukabarah artinya apa? Takabur. Ya, sombong. Dia tidak mau tawadhu’ menerima kebenaran, padahal sudah jelas. Kebenaran itu di depannya, tapi karena gengsi—ya, karena isin mundur, bahasa Jawanya—ya, karena takut marwah-nya (wibawanya) runtuh, akhirnya dia tolak kebenaran. 

Ini hati-hati. Ada dua sebab yang disebutkan oleh Ibnu Katsir: yang pertama su’ul qasd (orientasi, niat, tujuan yang buruk); yang kedua apa? Kesombongan. 

Maka, definisi takabur menurut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu adalah “batharul haqi wa ghamthun naas.” Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia. Selama ini kita tahunya yang namanya sombong itu sombong amat ya, itu adalah ketika meninggi, kemudian meremehkan orang lain. Itu baru satu bagian. Ada bagian yang lain, yaitu batharul haq (menolak kebenaran). Ya, orang yang menolak kebenaran itu sudah jelas, dia sudah tahu itu benar, tetap ditolak, orang sombong, orang takabur. Dan betul, kebanyakan orang-orang kafir, orang-orang musyrik di zaman Rasulullah dan umat-umat sebelumnya, mereka itu menolak kebenaran.

 Mereka mengatakan, “Inna bima ursiltum bihi kafirun.” Sebagaimana dijelaskan Ibnu Katsir, selain disebabkan karena niat yang buruk, orientasi yang salah, tujuan yang jahat, ya, ada juga disebabkan karena kesombongan. Sombong, tidak mau menerima kebenaran, sombong tidak mau tawadhu’ kepada pembawa-pembawa kebenaran. 

Ini hati-hati ya. Jadi, ini perlu latihan, perlu riyadhah. Ya, biasakan kita itu menerima kebenaran dari siapapun ya. Para ayah diingatkan sama anaknya, ya, kalau yang betul anaknya, ngaku aja. Jangan sombong, jangan gengsi. “Nah, kamu kan masih kecil, Bapak lebih tahu, Ibu lebih tahu.” Jangan gitu jawab. Tidak mengurangi sama sekali wibawa. Ketika kita rujuk kepada kebenaran, kita mengakui kebenaran yang ada. Hal-hal kecil seperti diingatkan oleh mahasiswa, kalau memang salah, ya terima ya. Kita harus siap nerima kritik. Jangan anti-kritik. Hati-hati, orang-orang yang anti-kritik ini berpotensi menjadi mukabarah, berpotensi menjadi pengingkar-pengingkar kebenaran Islam. Ya. 

Dan ini perlu riyadhah, perlu latihan. Dikritik itu langsung jawabnya, “Ya, terima kasih atas masukannya.” Dinasihati oleh siapapun, bahkan oleh musuh sekalipun, bahkan oleh orang yang kita benci sekalipun. Di situlah berlaku, “Unzhur ma qala wa la tanzhur man qala.” Lihatlah apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang mengatakan. Kalau yang dikatakan itu benar, meskipun itu keluar dari lisan musuh kita sekalipun, keluar dari lisan orang yang kita benci sekalipun, keluar dari lisan orang yang mungkin lebih muda, lebih bodoh, lebih miskin daripada kita, terima. Hati-hati ya. 

Karena kalau kemudian kita menolaknya—menolak kebenaran itu setelah kita tahu betul-betul itu benar—kemudian kita tetap menolaknya disebabkan karena punya niat yang buruk atau disebabkan karena kesombongan, hati-hati. Dalam dosis yang paling besar, seperti apa yang dilakukan oleh orang-orang kafir Quraisy dan apa yang dilakukan oleh umat-umat terdahulu, akibatnya fatal. Apa kata Allah subhanahu wa ta’ala? “Fantaqamna minhum fanzhur kaifa kana ‘aqibatul mukadzdzibin.” Lalu Kami binasakan mereka. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan kebenaran ini. Hati-hati. 

Firaun, sehebat itu, seberkuasa itu, sedigdaya itu, saat dia berada di puncak kesombongannya, berbagai fakta sudah menunjukkan di depan matanya kebenaran apa yang dibawa oleh Nabi Musa dan Bani Israil, dia tetap menolaknya. Dia angkuh untuk mau menerima kebenaran itu, bahkan kemudian semakin menjadi-jadi. Puncaknya adalah ketika dia mengatakan, “Ana rabbukumul a’la,” dia sudah jatuh. Ya, dapat azab dari Allah subhanahu wa ta’ala di dunia dengan ditenggelamkan, diadzab di dunia sebelum nanti di akhirat ya. 

Apa yang bisa kita tadabburi dari apa yang dijelaskan oleh para ulama, termasuk oleh As-Sa’di pada ayat yang ke-24 ini? Beliau menggarisbawahi, “Fa ‘ulima annahum maa ittaba’ul huda, wa innamaa ittaba’ul bathila wal hawa.”  Dari sini, ini kesimpulannya, akhirnya diketahui bahwasanya mereka-mereka itu memang tidak mau mengikuti kebenaran dan petunjuk. Ya, adapun tujuan mereka hanya mengikuti kebatilan dan hawa nafsu. Intinya itu. Intinya itu, dengan berbagai alasan, dengan berbagai pemikiran, dengan berbagai keyakinan, jawaban-jawaban setelah terbantahkan, setelah argumen-argumen itu mentah semua di hadapan fakta-fakta ilmiah, di hadapan logika-logika yang waras, ngeles saja mereka. Intinya tidak mau mengikuti kebenaran dan petunjuk, tetapi lebih mengikuti kebatilan dan hawa nafsu. 

Wa liyadzubillah. 

Ada beberapa poin tarbawi yang sangat penting untuk kita garis bawahi. 

Pertama, kita sebagai orang-orang yang ingin berkomitmen kepada kebenaran, dan kita telah siap atau mewakafkan diri kita untuk memperjuangkan kebenaran—baik sebagai ulama, sebagai dai, sebagai murabbi, sebagai musyrif, sebagai mu’allim, sebagai pendidik, dan lain sebagainya—penting bagi kita untuk ma’rifatul a’da’ (mengenal musuh-musuh kita). Ya, ma’rifatul a’da’, mengenal atau mengetahui musuh-musuh kita itu seperti apa, itu penting. Dan yang penting untuk kita ketahui dari mereka adalah tabiat asli, atau tabiat asal, atau tabiat yang melekat kuat turun-temurun. Dan di sini Al-Qur’an menjelaskan ya, alasan orang-orang kafir Quraisy dalam menyekutukan Allah itu ternyata juga menjadi alasan umat-umat terdahulu. Kalau kita tahu itu—kalau kita tahu sunnah, istilahnya, kebiasaan mereka, kebiasaan orang-orang kafir, kebiasaan orang-orang musyrik, kebiasaan ahlul bathil—itu kita jadi tidak kaget. Dan ketika mereka melakukan propaganda, mereka membangun argumen dan lain sebagainya, kita tidak tertipu. “Ah, ini sama dengan apa yang disampaikan oleh orang-orang kafir Quraisy. Ini juga sama dengan yang disampaikan oleh kaum Nabi Luth. Ini juga sama dengan apa yang disampaikan oleh Firaun.” Itu terulang. “Atariyatu tu’idu nafsaha.” Ya, ini penting bagi kita, biar kita tidak—apa namanya—terlalu gagal, ya, atau kita kagetan yang kadang-kadang kagetan itu membuat kita—sering putus asa. Kalau orang sudah hafal ya kebiasaan orang-orang kafir, kebiasaan orang-orang musyrik yang Allah jelaskan berkali-kali, dan ternyata ada benang merahnya dari masa ke masa, tidak akan kaget. Itu penting sebagai tarbiyah dakawiyah untuk kita, pendidikan dakwah, yaitu bagaimana kita mengetahui kebiasaan-kebiasaan musuh. 

Kemudian, ikhwah fillah, arsyadakumullah, dari apa yang Allah jelaskan pada ayat 23, 24, dan 25, juga menjadi tarbiyah akhlakiyah yang penting bagi kita semua untuk menjauhi perbuatan taqlid. Ya, meniru tanpa menyaring, mengikuti tanpa kemudian mau mengoreksi, mengevaluasi, itu hati-hati, itu taqlid ya. Ukuran kebenaran sekali lagi adalah waqqif ‘inda Allah wa rasulih. Ketika perkataan-perkataan manusia atau siapapun yang kita ikuti—dengan berbagai kehebatannya, dengan berbagai kelebihannya, keutamaannya, atau mungkin karamah-karamahnya—kalau bertentangan dengan syariat, kalau bertentangan dengan Al-Qur’an dan sunah, jangan. 

Kemudian, hati-hati dengan dua sebab yang menyebabkan orang itu kafir, tetap ingkar setelah mengetahui kebenaran, yang dijelaskan oleh Ibnu Katsir adalah apa? Su’ul qasd. Ada niat buruk, ada tujuan yang salah, ada orientasi yang menyeleweng atau menipu. Dan yang kedua adalah kesombongan. Maka, itu harus kita buang jauh-jauh dari diri kita. Baik niat yang buruk ataupun takabur, itu biar apa? Biar kita lebih dekat kepada kebenaran. Kita menjadi orang-orang yang tawadhu’ ketika berhadapan dengan al-haq, dan kita terjauhkan dari segala bentuk kesombongan. 

You may also like

Leave a Comment

MAJELIS TABLIGH

PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH

MAJELIS TABLIGH OFFICIALS

Newsletter

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

@2024 – Designed and Developed by Asykuri ibn Chamim

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?
-
00:00
00:00
Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00
hacklink betovis betovis giriş betovis güncel betovis güncel giriş matbet matbet giriş matbet güncel matbet güncel giriş wbahis wbahis giriş wbahis giriş wbahis güncel wbahis güncel giriş vidobet vidobet giriş vidobet güncel vidobet güncel giriş betlike betlike giriş betlike güncel giriş betlike güncel betmabet betmabet betmabet giriş betmabet güncel betmabet güncel giriş parmabet parmabet giriş parmabet güncel parmabet güncel giriş parmabet parmabet giriş parmabet güncel parmabet güncel giriş https://tr.betmabet-guncelgirisi.com/ betmabet giriş betmabet güncel giriş vidobet vidobet giriş vidobet güncel vidobet güncel giriş enbet enbet giriş enbet güncel enbet güncel giriş betoffice betoffice giriş betoffice güncel giriş betoffice güncel casinolevant casinolevant giriş casinolevant güncel casinolevant güncel giriş efesbet efesbet giriş efesbet güncel giriş efesbet casino efesbet casino giriş casinoroyal casinoroyal giriş casinoroyal güncel giriş casinoroyal güncel romabet romabet giriş romabet güncel romabet güncel giriş masterbetting masterbetting giriş masterbetting güncel giriş betoffice betoffice giriş betoffice güncel giriş galabet galabet giriş galabet güncel giriş galabet güncel atlasbet atlasbet giriş atlasbet güncel atlasbet güncel giriş atlasbet atlasbet giriş atlasbet giriş atlasbet giriş atlasbet güncel atlasbet güncel giriş wbahis wbahis giriş wbahis giriş wbahis güncel wbahis güncel giriş betmabet betmabet güncel giriş