TABLIGH.ID, Bantul — Khutbah Jumat di Masjid Al Musannif Tabligh Institute Muhammadiyah, Ngebel, Tamantirto, pada 14 November 2025, menghadirkan pesan mendalam tentang jati diri seorang hamba Allah yang saleh. Dalam khutbahnya, Dr. Rohmansyah, S.Th.I., M.Hum., menjelaskan bahwa seorang hamba Allah sejati adalah sosok yang mempersembahkan seluruh jiwa dan raganya hanya untuk Allah, mengisi setiap detik kehidupannya dengan amal kebaikan, dan memanfaatkan waktunya secara optimal untuk kemaslahatan dunia dan akhirat.
Beliau menegaskan bahwa waktu adalah amanah yang tidak boleh disia-siakan. Seorang mukmin tidak ingin tergolong sebagai orang yang merugi, sebagaimana peringatan Allah dalam Surat Al-‘Asr yang menyebutkan bahwa manusia pada dasarnya berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Dalam konteks ini, memanfaatkan waktu bukan sekadar bekerja atau beraktivitas, tetapi menjaga niat agar seluruh amal ditujukan untuk meraih ridha Allah.
Dalam uraian khutbahnya, Dr. Rohmansyah mengajak jamaah untuk meneladani sosok Luqmanul Hakim, seorang hamba saleh yang kisahnya diabadikan dalam Al-Qur’an. Meskipun bukan nabi, Luqman diberi kedudukan mulia karena hikmah dan kesalehannya. Allah menampilkan keteladanan Luqman melalui rangkaian ayat dalam Surat Luqman, yang menggambarkan karakter dan akhlak seorang hamba yang benar-benar tunduk kepada Tuhan-Nya.
Beliau menjelaskan bahwa kesalehan Luqman bermula dari kemampuannya mensyukuri nikmat Allah. Syukur menurut Dr. Rohmansyah bukan hanya ucapan, tetapi menggunakan seluruh potensi diri sebagai sarana untuk menebar manfaat. Akal yang canggih, kesempatan hidup yang panjang atau pendek, bahkan kemampuan untuk belajar dan berkarya, semuanya adalah nikmat yang harus dibalas dengan kontribusi nyata. Ia menekankan bahwa di era kemajuan teknologi hari ini, syukur dapat diwujudkan melalui partisipasi aktif manusia dalam peradaban, selama niatnya diarahkan kepada Allah.
Lebih jauh, Dr. Rohmansyah menyoroti aspek ketauhidan sebagai inti ajaran Luqman kepada anaknya. Tauhid menjadi fondasi seluruh amal, karena Allah tidak mengampuni dosa syirik. Beliau mengingatkan bahwa keteguhan dalam tauhid harus tercermin dalam kesadaran bahwa seluruh aktivitas dilakukan semata-mata untuk Allah. Dengan tauhid yang lurus, seorang hamba akan terhindar dari segala bentuk penyimpangan niat maupun perbuatan.
Dalam khutbah tersebut, beliau juga menekankan pentingnya berbakti kepada kedua orang tua. Ayat-ayat Al-Qur’an menggambarkan betapa besar perjuangan seorang ibu dalam mengandung, melahirkan, dan menyusui anaknya. Menurut beliau, tidak ada harta atau jasa apa pun yang dapat membalas pengorbanan orang tua. Yang mampu dilakukan seorang anak hanyalah memuliakan keduanya dengan akhlak yang lembut, perkataan yang baik, dan perilaku yang menyejukkan. Durhaka kepada orang tua disebut sebagai salah satu dosa besar, sehingga berbuat baik kepada mereka menjadi jalan utama menuju keberkahan hidup.
Dalam lanjutan khutbahnya, Dr. Rohmansyah menjelaskan bahwa kesalehan seorang hamba juga tampak dari kemampuannya berbuat baik kepada sesama. Rujukan pada ajaran Luqman menunjukkan bahwa kebaikan sekecil apa pun, bahkan yang tersembunyi di tempat yang tidak terlihat, pasti akan dibalas oleh Allah. Pesan ini memperkuat kesadaran bahwa seorang mukmin harus senantiasa menebar manfaat, meskipun tidak diketahui manusia.
Khutbah tersebut juga menyoroti pentingnya menegakkan salat, bersikap sabar, dan menghadapi ujian dengan keikhlasan. Salat yang benar akan membentuk kekhusyukan, sedangkan kesabaran melatih jiwa untuk tetap teguh dalam situasi apa pun. Dr. Rohmansyah menggambarkan keduanya sebagai kekuatan spiritual seorang mukmin yang akan melahirkan ketenangan dan kebahagiaan hakiki.
Di akhir pembahasan, beliau menekankan nilai kerendahan hati sebagai ciri seorang hamba yang saleh. Sikap sombong dan angkuh tidak patut dimiliki manusia, karena seluruh kesempurnaan hanyalah milik Allah. Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, manusia diperintahkan untuk bersikap sederhana, lembut dalam bertutur, serta tidak memalingkan wajah dari sesama dengan kesombongan.
Khutbah ditutup dengan ajakan kepada seluruh jamaah untuk memohon agar Allah menjadikan mereka hamba-hamba yang saleh, yang mampu menebarkan manfaat bagi dirinya sendiri maupun bagi masyarakat luas. Dengan nada penuh harap, Dr. Rohmansyah menegaskan bahwa kebahagiaan dunia dan akhirat hanya akan diraih oleh mereka yang menjalani hidup dengan iman, syukur, dan ketakwaan.

