web stats
Home » Kajian Tematik Masjid Al-Istiqomah Banjarbaru: KH. Fathurrahman Kamal Kupas Jebakan Hati dan Bahaya Waswas

Kajian Tematik Masjid Al-Istiqomah Banjarbaru: KH. Fathurrahman Kamal Kupas Jebakan Hati dan Bahaya Waswas

by Redaksi
0 comment

TABLIGH.ID, Banjarbaru, 14 November 2025 — Masjid Al-Istiqomah Banjarbaru pada Jumat malam menggelar Kajian Tematik bersama KH. Fathurrahman Kamal, Lc., M.S.I., Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Dalam kajian yang berlangsung hangat dan penuh perhatian tersebut, beliau membahas secara mendalam tentang jebakan hati, bisikan waswas, serta syahwat dan syubhat yang secara halus dapat merusak amal seorang hamba.

Di awal pemaparannya, KH. Fathurrahman menukil ungkapan ulama, “Al-qalbu hadfun li syaithan,” bahwa hati adalah target utama setan. Menurut beliau, Iblis memahami bahwa poros amal seorang muslim ada di dalam qalbunya, sehingga seluruh tipu daya diarahkan ke sana. Ketika hati menjadi pusat aktivitas batin manusia, maka waswas menjadi senjata utama yang ditiupkan setan dengan cara yang sangat halus.

Beliau lalu menjelaskan dua godaan besar yang dihadapi manusia ketika beribadah, sebagaimana disebutkan oleh Sufyan Ats-Tsauri: riya’ dan ‘ujub. Riya’, yang bersifat eksternal, oleh Rasulullah disebut sebagai syirik kecil. Beliau menggambarkannya melalui hadis tentang semut hitam di atas batu hitam di malam gelap—sebuah ilustrasi yang menggambarkan betapa tersembunyinya riya’. Namun, godaan yang lebih berat datang dari dalam diri, yaitu ‘ujub. Riya’ mungkin masih tampak dalam bentuk unggahan dan pujian manusia, tetapi ‘ujub jauh lebih halus dan hanya dirasakan pelakunya. Ketika seseorang merasa amal tidak akan terjadi tanpa dirinya, di situlah penyakit itu tumbuh.

Dalam penjelasannya, beliau menegaskan betapa para ulama sangat mewaspadai ‘ujub. Dikatakan bahwa kebanggaan seseorang terhadap dirinya sendiri menjadi pertanda kerusakan akal. Bahkan amal saleh yang terlihat mulia dapat hampa apabila dicampuri riya’ atau ‘ujub. Meski demikian, beliau meluruskan bahwa laporan kegiatan pembangunan masjid melalui media sosial tidak sama dengan riya’; yang berbahaya adalah ketergelinciran hati yang terjadi tanpa disadari.

Iblis, menurut para ulama, meniupkan waswas bukan ke akal, tetapi langsung ke hati. Hal ini karena Iblis memahami bahwa tatanan batin manusia berporos pada qalbu, sebagaimana planet-planet yang berputar mengelilingi matahari. Sebaik apapun ibadah seseorang, selama hatinya tidak dijaga, ibadah itu ibarat orbit yang tetap kembali pada titik pusatnya.

KH. Fathurrahman kemudian mengutip perkataan Fudhail bin ‘Iyadh bahwa Allah tidak menerima amal kecuali yang ikhlas dan sesuai tuntunan. Ikhlas adalah verifikasi batin, sementara kesesuaian dengan sunnah adalah verifikasi lahir. Amal yang ikhlas tetapi tidak sesuai tuntunan tidak diterima, begitu pula amal yang sesuai standar tetapi tidak ikhlas.

Lebih jauh, beliau menjelaskan bahwa syahwat tidak selalu tampak dalam bentuk zahir seperti mabuk atau zina. Ada pula syahwat tersembunyi yang muncul dalam ibadah, misalnya menghias salat agar tampak lebih baik. Semuanya sangat halus dan hanya Allah yang mengetahuinya. Sejarah, menurut beliau, akan membuktikan siapa yang benar-benar ikhlas dan siapa yang tidak.

Selain syahwat, ada pula jebakan psikologis (ahwal) yang kerap dialami manusia berilmu. Beliau mencontohkan masyarakat Barat yang tampak maju dalam teknologi, ekonomi, serta ilmu pengetahuan, tetapi justru mengalami pandemi kesepian dan meningkatnya angka kematian akibat depresi. Mereka seperti pesawat canggih tanpa navigasi dan tujuan. Krisis ini terjadi karena mereka tidak memahami hakikat eksistensi manusia—dari mana ia berasal, untuk apa ia hidup, dan ke mana ia kembali.

Dalam konteks ini, KH. Fathurrahman mengaitkannya dengan jebakan psikologis Iblis, yang merasa lebih baik daripada Adam sehingga menolak sujud. Sikap merasa lebih unggul itulah yang sering menjadi sumber perpecahan di tengah umat. Beliau mengingatkan bahwa setan menggunakan cara yang sama pada manusia: menanamkan rasa paling benar, paling baik, dan paling layak dihormati. Hal ini bisa muncul dalam bentuk kontestasi antarormas, persaingan majelis, hingga perdebatan fikih yang tidak perlu.

Menurut beliau, banyak amal rusak bukan karena kurang ilmu, tetapi karena syahwat batin yang tidak terjaga. Bahkan, seseorang dapat sibuk dengan perkara-perkara tidak bermanfaat yang hanya menghabiskan waktu dan energi. Karena itu beliau mengingatkan hadis Rasulullah, “Di antara baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” Dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam aktivitas grup WhatsApp, umat perlu memastikan apakah percakapan dalam grup tersebut mendekatkan kepada surga atau justru melalaikan.

KH. Fathurrahman menekankan pentingnya menjaga kesatuan dan kerekatan hati umat. Hal ini menurut beliau lebih utama daripada mempertahankan pendapat dalam perkara khilafiah. Beliau mencontohkan kelenturan para imam terdahulu, seperti Imam Ahmad yang ikut qunut ketika berada di Mesir sebagai bentuk penghormatan, meskipun berbeda dengan praktik asalnya. Sikap seperti itu menurut beliau merupakan adab dalam dakwah yang kini mulai hilang.

Beliau menutup kajian dengan mengutip hikmah dalam Al-Hikam karya Ibnu ‘Atha’illah tentang perjalanan ruhani seorang hamba menuju Allah. Orang yang benar-benar berjalan kepada Allah tidak akan tertipu oleh capaian-capaian spiritual yang tampak, termasuk karamah atau keistimewaan lain. Tujuan sejati perjalanan itu, menurut beliau, masih jauh dan terus menuntut kehati-hatian. Beliau juga mengingatkan tentang firasat orang beriman yang melihat dengan cahaya Allah, sebuah karunia yang hanya diberikan kepada hamba-hamba yang hatinya dibersihkan.

Kajian berakhir dengan pesan kuat agar jamaah selalu menjaga hati, memperbaiki niat, menghindari jebakan syahwat dan syubhat, serta menjunjung tinggi adab dalam perbedaan. Semua itu menjadi kunci agar amal dan perjuangan umat tetap berada di atas jalan yang diridai Allah Subhanahu wa Ta’ala.

You may also like

Leave a Comment

MAJELIS TABLIGH

PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH

MAJELIS TABLIGH OFFICIALS

Newsletter

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

@2024 – Designed and Developed by Asykuri ibn Chamim

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?
-
00:00
00:00
Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00