Oleh: Redaksi
Ketika harta ditempatkan oleh Allah pada orang yang tepat, maka Dia akan memberikan taufik kepadanya untuk membelanjakannya di jalan yang benar. Harta itu bukan sekadar milik, melainkan amanah yang menggerakkan kebaikan ketika berada di tangan orang yang memiliki hati yang lurus.
Sosok yang layak menjadi contoh dari prinsip itu adalah seseorang yang akrab disapa Abah Suparto. Lelaki sepuh dengan perawakan sederhana ini, sekilas tidak berbeda dari jamaah lain saat menghadiri pengajian di Masjid Ikhwanul Muslimin Muhammadiyah, Kalidawir, Tanggulangin, Sidoarjo. Ketika saya mendampingi Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah mengisi kajian di masjid tersebut, saya pun awalnya mengira beliau hanyalah jamaah biasa yang merapatkan shaf tanpa menonjol dari kerumunan.
Namun, saat diperkenalkan, barulah saya tahu bahwa lelaki sederhana itu adalah Abah Suparto, seorang dermawan besar yang namanya telah lama bergaung dari mulut ke mulut. Beliaulah aghniya yang selalu berada di garda terdepan dalam mendukung dakwah Muhammadiyah di Kalidawir. Di balik kesederhanaannya, beliau menyimpan keluasan hati dan komitmen yang jarang ditemui.
Kontribusi beliau tidak kecil. Abah Suparto pernah mewakafkan satu unit ambulans lengkap dengan perlengkapan P3K berstandar call center 911 untuk kebutuhan layanan kemanusiaan melalui LAZISMU. Kendaraan tersebut bukan hanya menjadi kebanggaan warga, tetapi juga telah melayani banyak kebutuhan darurat dan aksi sosial di lingkungan masyarakat. Tidak berhenti di situ, baru-baru ini beliau kembali mewakafkan satu unit Hyundai Stargazer untuk menunjang operasional kegiatan Muhammadiyah di wilayah tersebut. Mobil itu kini menjadi sarana penting bagi kader dan penggerak dakwah dalam menjalankan berbagai program.
Kedermawanan Abah Suparto memang bukan hal asing. Beliau dikenal sebagai pemilik Perusahaan Bumbu Masak Machmudah Sidoarjo, sebuah usaha yang tumbuh dari kerja keras dan ketekunan, lalu dikembalikan kemanfaatannya untuk umat. Nama beliau sering disebut bukan karena pencitraan, tetapi karena konsistensi kontribusinya yang tulus dan tidak pernah menunggu sorotan.
Melihat keteladanan itu, saya hanya bisa berharap semoga Allah Ta‘ala memberikan kesempatan kepada kita untuk menapaki jejak mulia beliau—menjadi hamba yang tidak hanya diberi kelapangan rezeki, tetapi juga keindahan akhlak, keteguhan ihsan dalam setiap perbuatan, ketelitian (itqān) dalam amal, dan keluasan rahmat bagi semesta.
Semoga Allah menjaga Abah Suparto, memberkahi hartanya, melipatgandakan pahalanya, dan mengokohkan langkah-langkah kebaikannya. Semoga pula semakin banyak hadir aghniya’ yang menghidupkan dakwah dan pelayanan umat sebagaimana beliau mencontohkannya.

