Literatur hadis mencatat satu peristiwa penting yang terjadi di Madinah. Kota itu pernah diguyur hujan deras tanpa henti selama satu pekan penuh—mulai dari hari Jum’at hingga berlanjut ke Jum’at berikutnya. Kisah ini termaktub dalam Shahih al-Bukhari no. 1014 dan Shahih Muslim no. 897, menjadi salah satu riwayat yang menunjukkan bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan umatnya menghadapi keadaan cuaca ekstrem dengan doa dan tawakal.
Hujan yang terus-menerus itu membuat sebagian sahabat mengalami kesulitan. Ladang rusak, hewan ternak terancam, dan jalur-jalur perjalanan terputus. Dalam kondisi seperti itu, seorang sahabat datang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memohon agar beliau berdoa kepada Allah agar hujan dialihkan.
Sahabat tersebut berkata dengan penuh keprihatinan:
“Wahai Rasulullah, harta-harta kami telah binasa dan jalan-jalan terputus. Berdoalah kepada Allah agar hujan ini dihentikan.”
Mendengar keluhan itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangan dan memanjatkan doa. Namun, bukan doa agar hujan berhenti total, melainkan doa agar hujan dialihkan ke tempat yang lebih bermanfaat dan tidak menimbulkan bahaya bagi masyarakat.
Beliau berdoa:
اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا
اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالظِّرَابِ
وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ
وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ
Allaahumma hawaalainaa wa laa ‘alainaa,
Allaahumma ‘alal aakaami wadh-dhiroobi,
wa buthuunil audiyati,
wa manaabitisy syajar.
Doa ini mengandung makna:
“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan tepat di atas kami. Ya Allah, turunkanlah hujan itu di atas perbukitan, dataran tinggi, lembah-lembah, dan tempat tumbuhnya pepohonan.”
Dalam riwayat disebutkan bahwa setelah doa itu dipanjatkan, awan yang menaungi Madinah seketika bergeser. Hujan pun turun di wilayah-wilayah yang disebutkan dalam doa, sementara kota Madinah mendapatkan cuaca yang lebih tenang.
Kisah ini menunjukkan kebijaksanaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menghadapi musibah. Beliau tidak meminta agar rahmat Allah dihentikan, namun agar hujan itu diarahkan ke daerah yang bermanfaat—tempat yang menjadi sumber air, penghidupan, dan pertumbuhan tanaman.
Doa ini menjadi tuntunan bagi umat Islam sampai hari ini. Ketika hujan turun berlebihan, kita dapat meneladani doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, memohon agar Allah mengalihkan hujan ke tempat yang membawa kemaslahatan, bukan kemudharatan. (Redaksi)

