TABLIGH.ID, KALIDAWIR, TANGGULANGIN — Pengajian Ranting dalam rangka Milad Muhammadiyah ke-113 di Masjid Muhammadiyah Ikhwanul Muslimin, Kalidawir, Tanggulangin, Sabtu (22/11/2025), berlangsung hangat dan penuh makna. Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, KH. Fathurrahman Kamal, Lc., M.S.I., hadir memberikan tausiyah utama dengan menekankan bahwa keberadaan Muhammadiyah adalah nikmat besar Allah yang menjadi jalan bagi umat untuk mendekat kepada surga melalui jamaah, syariat, dan amal saleh yang terpelihara.
Dalam ceramahnya, KH. Fathurrahman membuka dengan pertanyaan retoris: “‘Milad’ itu apa sebenarnya?” Beliau menjelaskan bahwa dalam tradisi Islam, milad adalah momentum mengingat peristiwa besar yang membawa cahaya perubahan. Karena itu, Milad Muhammadiyah harus ditempatkan sebagai momen muhasabah nikmat Allah, bukan sekadar seremonial.
Mengawali tausiyah dengan Surah Ibrahim ayat 5, KH. Fathurrahman menerangkan tiga pesan utama ayat tersebut. Pertama, Allah mengutus Nabi Musa untuk mengeluarkan kaumnya dari berbagai kegelapan menuju satu cahaya—“ilan-nur”—yang dimaknai para ulama sebagai cahaya tauhid dan Islam.
Kedua, Nabi diperintahkan untuk mengingatkan kaumnya tentang “ayyamullah”, hari-hari ketika pertolongan dan ketetapan Allah terjadi dalam sejarah. Ketiga, bahwa tanda-tanda kebenaran itu hanya dapat ditangkap oleh dua jenis manusia: hamba yang banyak bersabar dan banyak bersyukur.
Menurutnya, Muhammadiyah hadir sebagai pelanjut misi para nabi dalam mengingatkan umat akan nikmat Allah, sejarah perjuangan, dan pentingnya berjalan di atas cahaya wahyu. “Para ulama menyebut, tugas paling penting para nabi adalah men-tazkiyah manusia dengan mengingatkan mereka pada ayyamullah,” ujarnya.
Muhammadiyah dan Karamah Maknawi: Dijaga Allah dari Masa ke Masa
KH. Fathurrahman menegaskan bahwa Muhammadiyah telah eksis lebih dari satu abad bukan semata karena manajemen, melainkan karena karamah maknawi: penjagaan Allah terhadap niat, akhlak, dan amal para warganya.
“Tanpa campur tangan Allah, tidak mungkin Muhammadiyah melampaui seratus tahun. Ini karamatullah. Kalau Muhammadiyah tidak ada, mungkin tidak pernah ada ranting di sini, tidak ada ribuan amal usaha, rumah sakit, sekolah, atau kader-kader yang menjaga akhlak umat,” tuturnya.
Beliau menjelaskan bahwa karamah sejati bukan kesaktian fisik, melainkan terjaganya syariat, akhlak, keikhlasan, amanah, serta rasa takut kepada Allah dalam diri warga Muhammadiyah. Inilah yang menurutnya membuat persyarikatan ini dipercaya masyarakat, pemerintah, dan dunia internasional.
Dalam bagian terpenting tausiyah, KH. Fathurrahman menegaskan bahwa berada dalam jamaah yang lurus adalah salah satu jalan paling kuat menuju keselamatan dan surga. Ia mengutip sabda Nabi:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umat Muhammad di atas kesesatan. Dan tangan Allah bersama jamaah.”
Menurut beliau, salah satu alasan Muhammadiyah menjadi jalan menuju surga adalah karena persyarikatan ini menjaga jamaah pada jalan yang benar—tauhid, Al-Qur’an, sunnah, kerja sosial, dakwah pencerahan, dan akhlak mulia.
“Kita ini berjamaah di Muhammadiyah bukan untuk kebesaran nama, tapi untuk menjaga diri agar tetap berada di jalan yang dijaga Allah,” katanya. “Sendirian mudah goyah, berjamaah insya Allah berada dalam lindungan-Nya.”
Beliau menambahkan bahwa amal-amal besar Muhammadiyah—mendirikan sekolah, rumah sakit, panti asuhan, kegiatan dakwah, pembinaan kader, hingga respon kebencanaan—semua itu adalah jalan-jalan amal saleh yang akan mengangkat derajat warganya menuju surga.
“Muhammadiyah ini membantu kita menaikkan derajat surga kita. Saling menguatkan, saling menolong, saling menjaga akidah. Ini karamah yang Allah anugerahkan,” tegasnya.
Menyiapkan Kader Penerus sebagai Cahaya di Akhirat
KH. Fathurrahman juga menyinggung pentingnya mempersiapkan generasi penerus yang berilmu dan berakhlak. Ia mengajak jamaah untuk merawat anak-anak dan remaja sebagai “lampu-lampu” masa depan, yang kelak menjadi penolong orang tuanya di alam kubur.
Beliau bahkan menawarkan dukungan pendidikan hingga luar negeri bagi para kader muda yang memiliki potensi, karena ilmu agama dan akhlak adalah investasi akhirat yang paling pasti.
Di penghujung tausiyah, KH. Fathurrahman mengingatkan bahwa Milad Muhammadiyah harus dibaca sebagai ayyamullah: hari ketika umat menghitung nikmat Allah, mengingat perjuangan pendahulu, dan memperkuat komitmen untuk meneruskan risalah Nabi Muhammad SAW.
“Mengapa persyarikatan ini bernama Muhammadiyah? Karena kita ingin tabarruk dengan nama Muhammad—khatamul anbiya—dan ingin menyambung risalah beliau sampai akhir zaman. Selama kita menjaga Al-Qur’an dan sunnah, Muhammadiyah akan terjaga, dan kita insya Allah diselamatkan menuju surga,” pungkasnya.

