Oleh: Dr. Hakimuddin Salim, Lc., M.A.
وَقَالُوْا لَوْ شَاۤءَ الرَّحْمٰنُ مَا عَبَدْنٰهُمْ ۗمَا لَهُمْ بِذٰلِكَ مِنْ عِلْمٍ اِنْ هُمْ اِلَّا يَخْرُصُوْنَۗ اَمْ اٰتَيْنٰهُمْ كِتٰبًا مِّنْ قَبْلِهٖ فَهُمْ بِهٖ مُسْتَمْسِكُوْنَ بَلْ قَالُوْٓا اِنَّا وَجَدْنَآ اٰبَاۤءَنَا عَلٰٓى اُمَّةٍ وَّاِنَّا عَلٰٓى اٰثٰرِهِمْ مُّهْتَدُوْنَ
Mereka berkata, “Sekiranya (Allah) Yang Maha Pengasih menghendaki, tentulah kami tidak menyembah mereka (malaikat).” Mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang itu. Mereka hanyalah menduga-duga belaka. Apakah kami pernah memberikan sebuah kitab kepada mereka sebelumnya (Al-Qur’an), lalu mereka berpegang teguh (pada kitab itu)? Bahkan, mereka berkata, “Sesungguhnya kami telah mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama dan kami hanya mengikuti jejak mereka.”
Pada ayat-ayat sebelumnya dijelaskan bentuk kekufuran orang-orang Quraisy ketika itu, di mana mereka meyakini bahwa para malaikat—yang kemudian mereka imajinasikan dalam bentuk patung-patung yang mereka sembah—adalah banātullāh (anak-anak perempuan Allah Subhanahu wa Ta’ala). Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat-ayat sebelumnya membantah keyakinan mereka tersebut. Salah satu bentuk bantahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada mereka adalah dengan menggunakan logika mereka sendiri, menggunakan alur berpikir mereka sendiri.
Ketika mereka meyakini bahwa malaikat itu adalah anak-anak perempuan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka sesungguhnya mereka telah memberikan sifat yang hina menurut mereka sendiri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena dijelaskan dalam ayat-ayat ini bahwa busya ḥaduhum bil-unṡā wa idzā busysyira aḥaduhum bimā ḍaraba lir-raḥmāni maṡalan, ẓalla wajhuhū muswaddaw wa huwa kaẓīm—bahwasanya orang-orang kafir Quraisy itu ketika diberi kabar bahwa dari rahim istri-istri mereka lahir anak perempuan, maka muka mereka menjadi merah padam, mereka emosi, marah, dan kecewa. Hal ini karena mereka menganggap bahwa anak-anak perempuan itu merupakan bentuk kehinaan, anak yang tidak dapat melanjutkan nasab mereka, tidak dapat memberikan kebanggaan dalam peperangan, dan tidak dapat diandalkan untuk mencari kehidupan duniawi. Itulah logika dan keyakinan mereka.
Maka, ketika mereka meyakini bahwa malaikat adalah anak-anak perempuan Allah Subhanahu wa Ta’ala, jika menggunakan logika mereka sendiri, jelas itu merupakan bentuk penghinaan mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bagaimana mungkin mereka sangat menginginkan anak laki-laki dan merasa terhina dengan anak perempuan, tetapi justru menisbatkan anak-anak perempuan—yang mereka yakini sebagai para malaikat—kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala? Ini adalah rangkuman dari apa yang telah kita jelaskan pada ayat-ayat sebelumnya.
Kemudian, dalam ayat ke-20, Allah Subhanahu wa Ta’ala melanjutkan penjelasan tentang kekufuran orang-orang kafir Quraisy.
Ikhwah fillah, arsyadakumullah, satu hal yang penting untuk kita perhatikan: saat Allah menjelaskan kekufuran suatu kaum tertentu, kita sebagai orang-orang beriman jangan kemudian merasa, “Oh, itu bukan tentang kita. Itu tentang mereka. Aku kan mukmin, aku kan muslim, ini tidak membahas tentang aku atau tentang kita,” lalu kita merasa tidak tersinggung atau merasa aman dari apa yang mereka lakukan. Jangan sampai demikian. Bahkan para sahabat sekalipun, ketika suatu ayat turun, mereka merasa semua itu diperuntukkan bagi mereka. Ketika Allah menyinggung tentang kemunafikan atau kekufuran, mereka selalu khawatir jangan-jangan ada sedikit kekufuran atau kemunafikan dalam diri mereka. Inilah perasaan yang harus kita hadirkan. Setidaknya, kita khawatir kalau ada satu atau dua persen dari bentuk kekufuran itu kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari, atau kita tidak sadar melakukannya, atau kita tidak menyadari bahwa perbuatan kita serupa dengan yang dilakukan orang-orang kafir Quraisy.
Ini penting. Dengan mengetahui bahwa hal tersebut merupakan bentuk kekufuran, kemusyrikan, atau sesuatu yang sangat dibenci dan dimurkai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, hal itu akan membentengi diri kita untuk tidak menjadi seperti mereka. Ini merupakan hal yang sangat penting. Mengapa kita tetap membaca dan mentadaburi ayat-ayat yang berkaitan dengan ini? Mengapa kita menggali ibrah dari ayat-ayat yang Allah sebutkan dalam surah-surah yang berkaitan dengan orang-orang kafir dan musyrik? Agar kita tidak terjatuh ke dalam kemusyrikan dan kekufuran yang sama.
“Wa qālū law syā’ar-Raḥmānu mā ‘abadnāhum…” (Dan mereka berkata, “Sekiranya Allah Yang Maha Pengasih menghendaki, tentulah kami tidak menyembah mereka (malaikat).”)
Maksudnya, orang-orang kafir itu mengatakan, “Sekiranya Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki, tentulah kami tidak akan menyembah mereka (malaikat).” “Mā lahum biżālika min ‘ilmin in hum illā yakhruṣūn(a).” (Mereka tidak mempunyai ilmu sedikit pun tentang itu; mereka hanya menduga-duga belaka.)
Sesuai dengan penjelasan Ibnu Katsir, argumen mereka adalah seandainya Allah berkehendak, tentu orang-orang kafir Quraisy itu tidak akan menyembah berhala—yang merupakan bentuk imajinasi mereka tentang malaikat sebagai anak-anak perempuan Allah. Mereka berkata, “Seandainya Allah berkehendak, tentu tidak.” Namun menurut mereka, faktanya mereka menyembah berhala, berarti Allah menghendakinya. Hati-hati dengan pemikiran seperti ini.
Mereka meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui kondisi mereka menyembah berhala, tetapi tidak menghalanginya, sehingga berarti hal itu dikehendaki oleh Allah. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa dalam keyakinan ini, mereka menggabungkan beberapa jenis kesalahan sekaligus.
Salah satu kesalahannya adalah keyakinan mereka bahwa Allah mempunyai anak (jauhuhum lillāhi walad). Ini kesalahan pertama. Kesalahan kedua adalah klaim mereka bahwa Allah lebih memilih anak perempuan daripada anak laki-laki, dengan menjadikan malaikat—yang sebenarnya adalah hamba—sebagai anak-anak perempuan. Kesalahan ketiga adalah mereka menyembah apa yang mereka yakini sebagai anak-anak perempuan Allah itu—seperti Lata dan Uzza—berhala-berhala yang mereka pasang di sekitar Ka’bah atau yang kecil-kecil di dalam Ka’bah, yang mereka tawafi saat haji.
Kesalahan keempat adalah mereka berhujah atas kesesatan mereka dengan mengatakan bahwa itu merupakan kehendak dan takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini yang perlu diwaspadai. Yang pertama, kedua, dan ketiga insya Allah kita aman. Namun, yang keempat ini—hati-hati. Orang-orang musyrik Quraisy beralasan bahwa penyembahan mereka kepada berhala adalah karena kehendak Allah, karena kalau Allah tidak menghendaki, tidak mungkin hal itu terjadi. Jadi, mereka berargumen bahwa apa yang mereka lakukan adalah takdir Allah.
Apakah hal seperti ini sering terjadi di sekitar kita? Mungkin tidak dalam bentuk kekufuran yang sama, tetapi banyak orang yang terjerumus dalam dosa, kemaksiatan, atau bersikukuh dalam kesesatan dengan alasan, “Ini takdir.” Hati-hati. Jika ada orang yang demikian, berarti dia melakukan hal yang serupa dengan yang dilakukan orang-orang musyrik Quraisy.
Jadi, tidak boleh kita bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, malas beribadah, tetap dalam kesesatan, atau tidak segera keluar dari maksiat dengan keyakinan bahwa ini adalah takdir Allah. Jangan sampai kita berpikir, “Aku sudah seperti ini, rasanya memang sudah takdir. Sudah ditakdirkan menjadi orang jahat, sudah ditakdirkan menjadi pendosa, mau bagaimana lagi?” Itu tidak boleh. Menyalahkan takdir, apalagi mengklaim bahwa kemaksiatan dan dosa adalah masyī’atullāh (kehendak Allah), adalah keliru. Ini mirip atau bahkan persis dengan yang dilakukan orang-orang kafir Quraisy ketika mereka mengatakan, “Lau syā’ar-Raḥmānu mā ‘abadnāhum.”
Hati-hati, jangan sekali-kali kita beralasan tentang takdir ketika melakukan kesalahan. Jangan sampai kita beralasan atas nama masyī’atullāh (kehendak Allah) saat melakukan keburukan, kelalaian, dan sebagainya. Bahkan musibah yang menimpa manusia—mā aṣābahum min muṣībah—disebabkan oleh perbuatan tangan mereka sendiri (bimā kasabat aydīhim). Maka, jangan ketika kita salah, lalai, atau berdosa—terutama melanggar aturan Allah—lalu kita menyalahkan kehendak Allah. Akui itu sebagai kesalahan kita. Ini penting.
Jangan sampai kita tanpa sadar meniru pola pikir orang-orang kafir Quraisy dalam berargumentasi. Ini bukan sekadar masalah jangan sampai kita menjadi kelompok sesat Qadariyah atau Jabariyah. Qadariyah meyakini bahwa manusia bebas menentukan dirinya sendiri tanpa campur tangan takdir Allah, sedangkan Jabariyah meyakini sebaliknya—manusia seperti wayang, termasuk ketika berdosa dan bermaksiat, itu adalah kehendak dalang (Allah). Keduanya sama-sama sesat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan irādah (kemauan) kepada manusia. Manusia memiliki kesempatan untuk memilih. Allah berfirman, “Fa man syā’a falyu’min wa man syā’a falyakfur.” Allah telah menurunkan hujah, Al-Qur’anul Karim, kitab-kitab suci, dan mengutus para nabi dan rasul untuk iqāmatul ḥujjah (menegakkan hujah). Sebagaimana dijelaskan para mufassir, jelas bahwa klaim dan keyakinan orang-orang kafir Quraisy ini salah besar. Allah dalam ayat-ayat-Nya telah mengingatkan mereka dan menyatakan kesesatan mereka ketika menyembah berhala.
Ikhwah fillah, arsyadakumullah, sebagaimana dijelaskan Ibnu Katsir, inilah penjelasannya.
Kemudian, ayat berikutnya: “Am ātaināhum kitābam min qablihī fa hum bihī mustamsikūn(a).” (Atau apakah telah Kami berikan kepada mereka sebuah kitab sebelum ini (Al-Qur’an), lalu mereka berpegang kepadanya?)
Imam Al-Qurthubi menjelaskan ayat ini. Ini merupakan bentuk pengingkaran dari Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap orang-orang kafir Quraisy bahwa keyakinan mereka adalah batil. Apakah mereka mengetahui penciptaan para malaikat? Dalam ayat ini, dengan nada yang sama, Allah mempertanyakan kepada mereka, apakah Allah telah menurunkan kepada mereka sebuah kitab sebelum Al-Qur’an, lalu mereka berpegang teguh padanya? Tentu tidak. Apa yang mereka lakukan bukanlah bentuk berpegang teguh kepada kitab suci terdahulu—Zabur, Taurat, Injil—karena tidak ada kitab suci yang menyerukan penyembahan berhala.
Jadi, apa yang mereka lakukan jelas bukan sebagai bentuk tamassuk (berpegang teguh) kepada kitab suci yang telah Allah turunkan. Sebaliknya, apa yang mereka lakukan—menyembah berhala yang merupakan wujud imajinasi mereka tentang malaikat sebagai anak-anak perempuan Allah—adalah warisan nenek moyang mereka.
“Bal qālū innā wajadnā ābā’anā ‘alā ummatin wa innā ‘alā āṡārihim muhtadūn(a).” (Bahkan mereka berkata, “Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka.”)
Mereka mengatakan bahwa mereka mendapati nenek moyang mereka menganut suatu agama (maksudnya, penyembahan berhala), dan sesungguhnya mereka mengikuti jejak nenek moyang mereka untuk mendapat petunjuk.
Jadi, jelas bahwa apa yang mereka lakukan—penyembahan berhala dan keyakinan bahwa malaikat adalah anak-anak perempuan Allah—bukan berdasarkan kitab suci yang telah Allah turunkan sebelum Al-Qur’anul Karim. Tetapi, sebagaimana pengakuan mereka sendiri, mereka ikuti, warisi, dan teladani dari nenek moyang mereka. Ini tentu merupakan argumen yang sangat rapuh dan lemah.
As-Sa’di menjelaskan bahwa mereka memiliki syubhat (kerancuan) dari sekian banyak syubhat, yaitu taqlīdul ābā’ (mengikuti nenek moyang) yang sesat. Mereka menolak dakwah para nabi dan rasul dengan alasan mengikuti nenek moyang.
Di sini dikatakan, bahkan mereka berkata, “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami, nenek moyang kami, ‘alā ummah“—maksudnya, di atas suatu millah atau ajaran. Penjelasannya, “Wa innā ‘alā āṡārihim muhtadūn(a), fa lā nattabi’u mā jā’a bihī Muḥammadun ṣallallāhu ‘alaihi wasallam.” Ketika mereka tidak mengikuti apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wasallam—yaitu ajaran tauhid dan perintah untuk menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Zat satu-satunya yang berhak disembah—mereka beralasan, “Wa innā ‘alā āṡārihim muhtadūn(a).” Mereka mengikuti nenek moyang mereka dalam kekufuran, termasuk penyembahan kepada para malaikat yang mereka imajinasikan dan wujudkan dalam bentuk berhala.
Ikhwah fillah, arsyadakumullah, hati-hatilah. Jika ada sekelompok masyarakat, ketika diingatkan untuk tidak melakukan syirik, khurafat, atau perbuatan bid’ah, lalu mereka beralasan, “Ini sudah warisan, ini sesuai dengan yang dicontohkan pendahulu atau nenek moyang kita,” atau dengan alasan yang agak Islami seperti, “Ini kata kiai-kiai kita, ini kata ustaz-ustaz kita,” tanpa disertai hujah yang benar dan dalil yang sahih, ini berbahaya. Hal ini mirip—beberapa persen—dengan hujah yang dikemukakan orang-orang kafir Quraisy dahulu.
Ikhwah fillah, arsyadakumullah, sekali lagi, insya Allah kita tidak seperti orang-orang kafir Quraisy. Kita selamat dari kesyirikan dan kekufuran yang mereka lakukan. Namun, waspadalah dan berhati-hatilah, jangan sampai ada 0,koma sekian persen dari perbuatan, perkataan, atau keyakinan kita yang mirip dengan keyakinan dan pernyataan mereka. Salah satunya adalah ketika mereka menyalahkan takdir atau masyī’atullāh atas penyembahan mereka kepada berhala.
Kita sering mendengar di sekitar kita, ada orang yang berbuat dosa dan maksiat, lalu menyalahkan takdir. Ada orang yang berbuat salah, tidak mau mengoreksi diri, tidak mau bermuhasabah dan berintrospeksi, tetapi justru langsung menyalahkan atau beralasan bahwa ini adalah takdir. Itu juga tidak benar, meskipun kesalahannya tidak seberat yang dilakukan orang-orang kafir Quraisy.
Begitu pula dengan argumen terakhir orang-orang kafir Quraisy ketika diseru untuk mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika mereka diingatkan tentang bahaya syirik dan kesalahan menyembah berhala, mereka menjawab, “Qālū innā wajadnā ābā’anā ‘alā ummatin wa innā ‘alā āṡārihim muhtadūn(a).”
Hati-hati, jangan sampai kita lebih memilih warisan nenek moyang daripada warisan Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wasallam. Jangan sampai kita memilih petunjuk berdasarkan budaya, kearifan lokal, atau pertimbangan lain dengan mengesampingkan petunjuk dari Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wasallam. Ini sangat penting untuk diperhatikan.
Banyak poin pendidikan yang dapat kita ambil, terutama at-tarbiyyah al-‘aqadiyyah (pendidikan akidah) dan pendidikan tauhid yang sangat penting. Kemudian, ikhwah fillah, arsyadakumullah, di sini juga terdapat pendidikan keimanan, khususnya terkait iman kepada takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala. Iman kita kepada takdir, qada dan qadar, tidak boleh menjadikan takdir Allah sebagai alasan atas kesalahan dan kekufuran yang dilakukan manusia.
Kemudian, ini juga penting untuk menyikapi warisan budaya, warisan leluhur, dan warisan nenek moyang. Itu semua penting untuk dilestarikan selama tidak bertentangan dengan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan wajib ditinggalkan ketika bertentangan dengan nilai-nilai dan syariat, terlebih jika termasuk perbuatan syirik atau dosa-dosa lainnya.

