TABLIGH.ID, PASURUAN – Dalam semangat Islam Berkemajuan, dakwah tidak hanya hadir di balik mimbar dan rangkaian kata-kata, tetapi juga melalui kerja-kerja nyata yang menyentuh kebutuhan pokok umat, salah satunya ekonomi. Atas kesadaran akan pentingnya pilar dakwah di bidang ekonomi, Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mengadakan kunjungan kerja dan studi komparatif ke Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur. (25/10/2025)
Rombongan Majelis Tabligh dipimpin oleh KH. Fathurrahman Kamal, Lc., M.S.I, Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ir. K.H. Achmad Supriyadi, M.M. (Bendahara Umum ), didampingi Ustadz Akhmad Arif Rifan, S.H.I., M.S.I. (Wakil Bendahara), Ustadz Dr. Waluyo, Lc., M.A. (Wakil Sekretaris), dan Arief Bharata Al-Huda, S.Psi., M.M., M.Si. (Wakil Sekretaris). Kunjungan ini bukan sekadar agenda formal, melainkan ikhtiar spiritual dan intelektual untuk mempelajari kemandirian ekonomi berbasis pesantren yang telah lama mengakar di Sidogiri.
Setibanya di lokasi, rombongan disambut dengan penuh hangat dan kekeluargaan oleh Ustadz Saiful Ulum, Direktur Bisnis dan Marketing Toko Basmalah. Pertemuan di kompleks pesantren tersebut menjadi ruang ta’aruf yang mempererat hubungan dua institusi besar dalam dunia dakwah Islam di Indonesia. Dalam kesempatan itu, K.H. Achmad Supriyadi menegaskan bahwa tujuan Majelis Tabligh adalah menyerap energi positif dan ilmu manajemen bisnis syariah yang telah terbukti sukses dijalankan Sidogiri. “Kami ingin melihat bagaimana nilai-nilai ilahiah diterjemahkan menjadi sistem ekonomi yang menyejahterakan, bukan hanya memperkaya segelintir orang,” ujarnya.
Dalam diskusi yang berlangsung produktif, Ustadz Saiful Ulum memaparkan perjalanan panjang Koperasi Pondok Pesantren (KOPONTREN) Sidogiri, yang berdiri sejak 1961 dan berkembang menjadi salah satu jaringan ritel santri terbesar di Indonesia. Salah satu komitmen paling kuat yang dijaga Sidogiri adalah menjauhi riba secara total. Mereka tidak menggunakan dana pinjaman dari pihak ketiga dan tetap berpegang pada prinsip keberkahan sebagai orientasi utama, bukan sekadar kecepatan ekspansi.
Data 2024 menunjukkan perkembangan mengesankan: 289 Toko Basmalah telah tersebar di 16 kabupaten/kota di Jawa Timur. Program kemitraan Kios Hamdalah pun berkembang pesat dalam memberdayakan ekonomi masyarakat hingga ke tingkat akar rumput, dengan rincian Pasuruan 380 mitra; Lumajang 70 mitra; Bangkalan 70 mitra; Sampang 63 mitra; Bondowoso 44 mitra; Probolinggo 40 mitra; serta masing-masing 31 dan 30 mitra untuk Jember dan Pamekasan. Angka-angka tersebut menunjukkan ratusan keluarga yang terangkat ekonominya melalui sistem ta’awun (tolong-menolong).
Sidogiri juga tengah menyiapkan langkah ekspansi terukur melalui konsep mini Basmalah yang menyasar lokasi-lokasi strategis seperti terminal, stasiun, rumah sakit, dan kampus. Target pengembangan mencakup 40 cabang baru pada 2024–2025, bertambah menjadi 75 cabang pada 2025–2026, dan menuju redesain 500 outlet pada 2026–2027. Semua ini dilakukan melalui kajian kelayakan yang ketat tanpa mengabaikan prinsip kemaslahatan.
Pelajaran penting yang diserap dari Sidogiri tidak hanya terkait teknis bisnis, melainkan ruh yang menggerakkannya. Sidogiri mengajarkan nilai BAIK—Berintegritas (shiddiq, amanah, tabligh, fathanah), Aspiratif, Inovatif, dan Kolaboratif. Nilai-nilai ini selaras dengan konsep tazkiyatun nafs, bahwa bisnis dalam Islam bukan hanya urusan laba, tetapi sarana mendekatkan diri kepada Allah. Seorang pedagang yang jujur dan amanah hakikatnya sedang menapaki jalan menuju surga.
Refleksi teologis juga hadir dalam perjalanan ini. Firman Allah dalam Surah An-Nisa ayat 29 mengingatkan umat agar tidak memakan harta secara batil dan hanya melakukan transaksi berdasarkan kerelaan. Dalam Tafsir At-Tanwir Muhammadiyah, ayat ini dipahami sebagai seruan untuk menjalankan aktivitas ekonomi yang produktif dan distributif, bukan eksploitatif. Model kemitraan Kios Hamdalah menjadi implementasi nyata perdagangan yang dilandasi kerelaan dan pemberdayaan.
Rasulullah SAW juga menegaskan nilai kejujuran dalam bisnis melalui sabdanya, “Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi, shiddiqin, dan syuhada.” (HR. Tirmidzi no. 1209). Hadis ini memperkuat keyakinan bahwa mengelola ekonomi umat adalah jihad mulia, di mana integritas menjadi modal paling berharga.
Studi kerja Majelis Tabligh PP Muhammadiyah ini ditutup dengan optimisme kuat. Ustadz Dr. Waluyo menyampaikan bahwa ilmu yang diperoleh dari Sidogiri menjadi pelita berharga. “Dengan jejaringnya yang luas, Muhammadiyah insya Allah mampu bersinergi atau bahkan mengembangkan model serupa demi tegaknya izzul Islam wal Muslimin,” ungkapnya. Harapan pun tumbuh agar silaturahmi antara Majelis Tabligh PP Muhammadiyah dan Pondok Pesantren Sidogiri menjadi awal kebangkitan ekonomi umat yang penuh keberkahan.

