Home / KHAZANAH  / Revolusi Jiwa Berkorban

Revolusi Jiwa Berkorban

Sungguh, betapa tidak mudah melepas ego-kepentingan jika tanpa jiwa berkorban.

Idhul Adha adalah hari raya penyembelihan hewan kurban. Wujud lahir ibadah kurban memang menyembelih hewan. Akan tetapi, sejatinya Idul Adha merupakan proses rohaniah terdalam agar setiap Muslim dapat menaklukkan ego kepentingannya agar menjadi insan yang bertakwa kepada Tuhan, yang memancarkan segala kebajikan hidup bagi diri, sesama, dan ranah semesta.

Dasar dan pusat seluruh ibadah itu adalah pengabdian total kepada Allah yang berbasis tauhid. Mengesakan Tuhan yang membawa dampak profetik pada seluruh kehidupan setiap insan Muslim yang menjalankannya.

Semua ini dijalankan agar manusia tidak sekadar hidup sebagaimana habitat hewan dan tumbuhan. Namun, hidup dengan makna lebih, yaitu memiliki fondasi dan orientasi nilai yang luhur dan bermakna.

Hidup spesies hewan dan tumbuhan, meski juga berfaedah, mereka hanya mengikuti sunatullah lahir dan mati. Adapun manusia diberi tugas khusus yang bermakna sekaligus berfaedah, yakni beribadah (QS Adz-Dzariyat: 56) dan menjalankan kekhalifahan di muka bumi (QS Al-Baqarah: 30; Hud: 60).

Tujuannya, agar hidup manusia selamat di dunia dan akhirat (QS Al-Baqarah: 201), demi meraih rida dan karunia Allah (QS Al-Fath: 29). Sekali lagi, bukan hidup sekadar hidup, untuk kemudian mati tanpa arti.

Jika manusia sekadar hidup untuk memenuhi kepentingan inderawi, seperti makan, minum, hasrat biologis, dan hal-hal duniawi semata, derajat kehidupannya belum memenuhi syarat sebagai insan fi ahsan at-taqwim. Menjadi manusia terbaik di hadapan Tuhan.

Oleh karena itu, Idul Adha dalam ritual penyembelihan hewan kurban sejatinya merupakan proses dekonstruksi rohaniah secara total agar setiap Muslim keluar dari belenggu hasrat-hasrat primitif menuju martabat insan mulia!

Hakikat berkurban

Idul Adha dengan ritual khusus penyembelihan hewan kurban merupakan proses ibadah membentuk diri sebagai insan bertakwa yang memiliki jiwa berkorban yang khariq al-’adat atau di luar kelaziman.

Allah berfirman yang artinya, ”Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik (QS Al-Hajj: 37).”

Pengorbanan Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail itu sungguh revolusioner. Bagaimana Nabi Ibrahim dan Siti Hajar rela putra tercintanya harus disembelih (menjadi obyek kurban) atas perintah Tuhan.

Ismail nan belia pun pasrah sarat ketaatan. Padahal, perintah kurban itu diperoleh Ibrahim hanya lewat mimpi. Meski penyembelihan itu digantikan seekor hewan, di hadapan Tuhan ketiganya lulus sebagai insan bertakwa yang memiliki jiwa berkorban tinggi.

Ketiganya sebagai role model atau uswah hasanah, selaku insan profetik yang rela berkorban untuk kepentingan orang banyak. Ketiganya memberi contoh bagaimana bebas dari belenggu diri dan duniawi untuk menjadi insan pemberi kemanfaatan dan kebajikan terbaik bagi sesama dan dunia.

Insan bertakwa berbuat kebaikan yang melintasi sesama dan lingkungan semesta. Semut dan tumbuhan pun beroleh pancaran kebaikannya.

Dirinya, selain hamba Tuhan yang saleh (abdullah), sekaligus menjadi khalifah di muka bumi (khalifat fi al-ardl) yang selalu hadir membangun tanpa merusak, bukan menjauhi dunia karena ingin hidup tampak bersih dan suci semata.

Manusia bertakwa selalu dekat dengan Tuhan tanpa merasa paling benar dan paling suci (QS An Najm: 32; An-Nisa: 49). Ketakwaan dirinya tidak memandang orang lain serba salah dan kotor hidupnya (QS Al Baqarah: 80, 111). Dia mengakumulasikan kebaikannya yang menembus langit dan memijak bumi dengan menebar rahmat bagi semesta raya.

Orang baik pun menjadi berubah ketika kekuasaan yang didudukinya terlampau besar dan lama sehingga sulit untuk berakhir.

Jika Idul Adha dikoneksikan dengan ibadah haji, di dalamnya terkandung pula jiwa berkorban. Dalam ibadah sai, yakni berlari-lari kecil antara Bukit Safa dan Marwah, misalnya, terkandung jejak perjuangan Siti Hajar saat mencari seteguk air bagi Ismail, sang bayi.

Hajar, demi putranya, harus berjuang mencari air di tengah sengatan panas dan keganasan gurun tandus. Perjuangannya berbuah manis dengan ditemukannya mata air zamzam yang hingga kini tak pernah habis airnya. Demi meraih tujuan yang mulia, manusia beriman harus rela mengorbankan segala hal yang dia miliki.

Para hujjaj atau mereka yang berhaji harus rela berkorban. Selain juga mengeluarkan segala kemampuan (istita’ah) untuk beribadah ke Tanah Suci Mekkah dan Madinah dalam seluruh prosesinya yang sangat berat.

Dalam kemampatan ruang dan waktu yang sangat padat karena pelakunya jutaan orang, semua menuntut pengorbanan saling berbagi dan peduli. Membunuh ego diri yang sering kali membelenggu setiap anak Adam di Planet Bumi ini. Di situlah penghayatan semua ibadah agar masuk ke dimensi hakikat dan makrifat, tidak berhenti di rukun syariat.

Apabila ibadah dilakukan dengan pemaknaan mendalam dalam ranah hakikat dan makrifat, para pelaku ibadah akan naik kelas derajat kemanusiaannya menjadi insan bertakwa yang otentik atau sebenar-benarnya takwa (QS Ali Imran: 102). Manusia bertakwa, dalam hal ini, memiliki jangkar relasi terbaik (ihsan) dengan Tuhan (habluminallah) dan sesama manusia (habluminannas) secara berkeseimbangan (QS Ali Imran: 112).

Ketakwaannya memancarkan kemanfaatan dan rahmat bagi diri, sesama, dan semesta (QS Al-Baqarah: 177; Ali Imran: 134; Al-Hujarat: 13; Al-Kautsar: 1-3; dan ayat lainnya). Ukuran ketakwaan itu tecermin dalam sikap tindak serba luhur dan utama yang menebar kebaikan semesta (QS Al-Anbiya: 107).

Insan yang paripurna ibadahnya buah dari Idul Adha dan haji akan mampu membebaskan dirinya dari segala jeratan hawa nafsu kepentingan inderawi yang berlebihan.

Mereka menjadi manusia profetik yang dari dirinya terpancar kesalehan hidup yang moderat (wasatiyah) dalam meraih kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Dirinya tidak dibelenggu ego dan segala kepentingan yang menjadikan dirinya budak dunia.

Sebaliknya, dia tidak menjauhi dan antidunia yang membuat dirinya kehilangan kekhalifahannya di muka bumi. Dia hidup dalam jalan tengah yang mampu mengelola diri dan lingkungan semesta dengan ihsan, yakni kebajikan profetik yang melampaui. Dia sekaligus memiliki pertanggungjawaban tinggi sebagai hamba Allah yang menjalankan peran khalifah di muka bumi.

Ego kepentingan

Manusia itu pada dasarnya makhluk berkepentingan, baik terkait ego diri maupun duniawi. Sewajarnya manusia memenuhi hasrat diri sebagaimana teori basic needs ala Abraham Maslow, yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan rasa memiliki dan kasih sayang, kebutuhan akan penghar-gaan, dan kebutuhan aktualisasi diri.

Allah berfirman yang artinya, ”Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga) (QS Ali ’Imran: 14).

Namun, agama mengajarkan agar kepentingan diri yang bersifat inderawi atau fisiologis dan duniawi dipenuhi seperlunya atau secukupnya dengan cara yang benar dan baik, serta tidak berlebihan, apalagi dengan menghalalkan segala cara.

Allah berfirman yang artinya, ”Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan (QS Al-A’raf: 31). Jika manusia sudah berlebihan, lahirlah ketamakan dalam segala aspek kehidupan sehingga sulit berhenti hingga ajal memisahkan dirinya (QS At-Takatsur: 1-2). Manusia sakit dibendung dan kian tamak manakala terjangkiti virus keberlebihan.

Sumber segala kekacauan di muka bumi ini sejatinya berpangkal pada ego manusia yang serakah menuruti hawa nafsu inderawi dan duniawi. Konflik antarmanusia, kerusakan ekosistem semesta, dan yang paling tragis saling bunuh secara fisik hingga terjadi perang.

Semuanya bermula dari hawa nafsu manusia yang egois dalam memenuhi kepentingan hidup yang melampaui batas.

Ulama, tokoh, dan umat beragama, jika kehilangan penghayatan tingkat hakikat-makrifat, bakal sebaliknya: melahirkan bias dan kedangkalan beragama.

Kepentingan diri kemudian meluas menjadi kepentingan keluarga atau dinasti, kroni atau relasi lingkar sekitar, kelompok atau golongan, dan lebih luas lagi bangsa.

Ketika segala kepentingan itu menyatu (cross-cutting of interest), terjadilah akumulasi keserakahan yang sering kali melahirkan prahara kehidupan umat manusia.

Ketika ego kepentingan diri, kroni, dinasti, kelompok, golongan, dan bangsa itu makin menggumpal, sungguh sulit menahannya karena biasanya berujung pada hegemoni kepentingan seperti oligarki di segala aspek kehidupan.

Rebutan jabatan, harta, kekuasaan, wilayah, dan segala urusan duniawi yang berujung prahara bermula dari hawa nafsu yang membuncah itu.

Berlakulah hukum Hobbesian, homo homini lupus. Manusia menjadi serigala bagi sesama dan lingkungannya. Golongan kuat mendiskriminasi dan mendominasi yang lemah. Lahirlah sangkar besi (iron cage) hegemoni sistemik yang mengangkangi segala hal. Ibarat juggernaut, kata Giddens, kereta raksasa yang menggilas siapa saja yang lewat di jalan kehidupan.

Dunia ilmu pun tidak luput dari hegemoni ketika berimpitan dengan kepentingan. Segala ideologi dan paradigma radikal-ekstrem dengan segala kaitannya yang sering melahirkan prahara justru lahir dari dunia dan pelaku ilmu.

Jangan dikira ilmuwan, ulama, cendekiawan, intelektual, akademisi, guru besar, dan segala atribut sejenis lainnya bebas dari hawa nafsu dan kepentingan subyektif, ataupun kolektif.

Dunia ilmu dan akademik juga dapat melahirkan provokator, agitator, dan aktor yang memicu prahara. Ilmu disalahgunakan guna meraih kepentingan-kepentingan sesaat yang pragmatis dan oportunistis. Mereka yang kritis sekalipun, saat giliran dikritik, akan tumbuh perangai primitifnya sebagai manusia berego tinggi. Ilmunya tak mencerahkan jiwa, pikiran, dan tindakannya.

Sungguh, betapa tidak mudah melepas ego-kepentingan jika tanpa jiwa berkorban. Berkorban bagi ilmuwan ialah tetap rendah hati dan tidak terjangkiti takabur diri karena berilmu tinggi.

Sikap kritis ilmuwan manakala bercampur takabur diri akan berubah menjadi krisis diri. Gemar mengkritik pihak lain, tetapi tidak suka dikritik. Opini dan pemikirannya inginnya didengar dan diikuti, tetapi ia sendiri tidak mau mendengar dan mengikuti pandangan orang lain. Daya toleransi terhadap pikiran berbeda menjadi rendah, jauh dari moderat.

Moderasi bahkan dipandang plin-plan tak punya jati diri. Pikiran dan sikap kritis berubah menjadi agitasi. Tumbuh sikap merasa benar sendiri, yang lain salah. Inilah yang disebut sangkar besi dunia ilmu dan ilmuwan, yang lahir dari arogansi dan ego-kepentingan diri.

Dunia agama bukan tanpa ego-kepentingan. Ulama, tokoh, dan umat beragama, jika kehilangan penghayatan tingkat hakikat-makrifat, bakal sebaliknya: melahirkan bias dan kedangkalan beragama.

Dunia keagamaan tak jarang melahirkan perebutan kepentingan atas nama agama. Dominasi mazhab, aliran, dan golongan yang kuat akan membentuk hegemoni keagamaan yang di dalamnya tersimpan kepentingan dangkal. Bukan hanya murni kepentingan keagamaan, melainkan juga sering kali bertemali dengan kepentingan politik, ekonomi, sosial, dan inderawi.

Sejarah klasik membuktikan, atas nama agama, lahir prahara mihnah atau persekusi terhadap pandangan dan golongan keagamaan yang berbeda.

Sungguh, betapa tidak mudah melepas ego-kepentingan jika tanpa jiwa berkorban.

Agama dijadikan kendaraan politik dan ekonomi yang tidak kalah ambisiusnya dengan kepentingan mereka yang sekuler. Kepentingan berjubah agama sering kali absurd karena disertai sakralisasi dan glorifikasi atas nama kitab suci dan kehebatan mazhab itu.

Apalagi, ego kepentingan kuasa. Kekuasaan itu pada dasarnya baik karena, dengan kekuasaan, dapat dibangun kehidupan yang adil, makmur, dan peradaban berkemajuan.

Namun, kekuasaan itu sering kali meninabobokan para pemiliknya, laksana anggur yang memabukkan. Hukum politik Lord Acton (1833-1902) menjadi adagium umum, ”Power tends to corrupt. Absolute power corrupts absolutely”.

Orang baik pun menjadi berubah ketika kekuasaan yang didudukinya terlampau besar dan lama sehingga sulit untuk berakhir. Kekuasaan itu seperti opium yang membuat pelakunya ketagihan. Karena itu, kekuasaan meniscayakan pengorbanan. Pengorbanan ”berkuasa untuk melepaskan”, berkuasa untuk memakmurkan, mencerahkan, serta memajukan peradaban manusia dan semesta raya!

Haedar Nashir

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sumber : www.kompas.id/

roni@tabligh.id

Review overview
NO COMMENTS

POST A COMMENT